Khotbah Jumat: Nisfu Sya’ban dan Kebersamaan Jelang Ramadan

Foto: Ilustrasi (Murianews)

Murianews, Kudus – Tanpa terasa, saat ini kita sudah melewati separuh dari bulan Sya’ban. Dengan demikian, tidak lama lagi, kita akan menyambut datangnya bulan suci Ramadan.

Dalam materi khotbah Jumat kali ini memaparkan tentang pentingnya menjaga kebersamaan pada momentum bulan Sya’ban menyambut datangnya bulan Ramadan. Pada dua bulan ini, umat Islam dianjurkan untuk lebih peduli kepada orang lain sebagai perwujudan hablun minan nas (hubungan kepada sesama manusia).

Anjuran ini diwujudkan dengan perintah untuk bersedekah dan berpuasa yang memiliki makna mendalam berupa kepedulian terhadap kondisi dan penderitaan orang lain.

Baca juga: Khotbah Jumat: Keutamaan Bulan Sya’ban dan Sejumlah Peristiwa Penting di Dalamnya

Berikut naskah khotbah Jumat dengan tema: Nisfu Sya’ban dan Kebersamaan Jelang Ramadan, dilansir dari NU Online, Jumat (10/3/2023).

Khotbah I

اَلْحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ أَنْعَمَنَا بِنِعْمَةِ الْاِيْمَانِ وَالْاِسْلَامِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ خَيْرِ الْأَنَامِ. وَعَلٰى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ. أَشْهَدُ اَنْ لَا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ الْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلَامُ وَأَشْهَدُ اَنَّ سَيِّدَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَاحِبُ الشَّرَفِ وَالْإِحْتِرَام أَمَّا بَعْدُ: فَيَاأَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ, اِتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ, وَاشْكُرُوْهُ عَلَى مَا هَدَاكُمْ لِلإِسْلاَمِ، وَأَوْلاَكُمْ مِنَ الْفَضْلِ وَالإِنْعَامِ، وَجَعَلَكُمْ مِنْ أُمَّةِ ذَوِى اْلأَرْحَامِ. قَالَ تَعَالَى : اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Ada dua hal yang patut kita ingat dan harus kita realisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Dua hal tersebut adalah senantiasa bersyukur atas nikmat yang telah dianugerahkan Allah kepada kita dan menguatkan ketakwaan dengan menjalankan perintah-Nya sekaligus menjauhi larangan-Nya.

Nikmat yang tak bisa kita hitung satu persatu ini harus disyukuri dalam hati melalui kesadaran bahwa kita adalah makhluk lemah yang tidak bisa lepas dari rahmat dan pertolongan Allah. Syukur ini harus kita ucapan dengan kalimat ‘Alhamdulillahirabbil Alamin” diiringi dengan syukur dalam tindakan, berupa memanfaatkan nikmat ini untuk menguatkan misi kita untuk beribadah menyembah Allah swt.

  يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوْا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ وَالَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ

Artinya: ”Wahai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dan orang-orang yang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al Baqarah: 21). Sementara ketakwaan harus terus ditingkatkan sebagai rambu-rambu agar kita senantiasa tetap di jalan Allah swt, mampu menaati segala ketentuannya. Muara dari ketakwaan adalah masuknya kita dalam golongan orang-orang yang spesial di sisi Allah dan akan mendapatkan ganjaran pahala yang lebih utama dari segalanya. Allah berfirman:

وَلَوْ اَنَّهُمْ اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَمَثُوْبَةٌ مِّنْ عِنْدِ اللّٰهِ خَيْرٌۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَࣖ

Artinya: ”Seandainya mereka benar-benar beriman dan bertakwa, pahala dari Allah pasti lebih baik, seandainya mereka mengetahui(-nya)”. (QS Al Baqarah: 103). Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Pada kesempatan khutbah kali ini, khatib akan menyampaikan materi khutbah berjudul: Nisfu Sya’ban dan Kebersamaan Jelang Ramadan. Materi ini perlu kita renungi dengan baik pada waktu-waktu ini karena kita sudah melewati Nisfu Sya’ban atau pertengah bulan Sya’ban dan sebentar lagi akan memasuki bulan suci Ramadan. Pentingnya kebersamaan dalam masa-masa ini pun selaras dengan berbagai perintah ibadah yang menekankan kepada kepedulian dan kepekaan sosial kita pada lingkungan sekitar.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri. Semua aspek kehidupan manusia membutuhkan orang lain sehingga konsep ta’awun atau saling tolong menolong dalam kebaikan menjadi perintah dalam agama. Wujud tolong-menolong ini di antaranya dengan memperbanyak sedekah pada bulan Sya’ban dan tentunya juga pada bulan-bulan lainnya.

Dengan kita banyak membantu orang-orang yang sedang dalam kesulitan di masa Nisfu Sya’ban dan Ramadan, maka kita dapat menjadikan mereka bergembira dan bahagia ketika memasuki bulan puasa. Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam kitab Ma Dza fi Sya‘ban? Menyebutkan bahwa umat Islam di zaman Rasulullah menyibukkan diri dengan tadarus dan mengeluarkan harta mereka untuk membantu kelompok dhuafa dan orang-orang miskin dalam menyongsong datangnya bulan Ramadan.

Budaya seperti ini pun sebenarnya sudah dilakukan juga oleh umat Islam di Indonesia dengan saling bersedekah makanan jelang datangnya bulan Ramadan. Budaya membahagiakan orang lain ini perlu perlu kita perkuat karena selain menjaga harmoni dalam kehidupan juga sekaligus bentuk ibadah yang dianjurkan dalam tuntunan agama Islam.

Dengan menjalin kebersamaan dan kebaikan pada orang lain melalui sedekah, maka sebenarnya kita sedang berbuat baik pada diri kita sendiri. Hal ini selaras dengan Firman Allah swt dalam Al-Qur’an Surat Al-Isra’ ayat 7:

 اِنْ اَحْسَنْتُمْ اَحْسَنْتُمْ لِاَنْفُسِكُمْۗ وَاِنْ اَسَأْتُمْ فَلَهَاۗ فَاِذَا جَاۤءَ وَعْدُ الْاٰخِرَةِ لِيَسٗۤـُٔوْا وُجُوْهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوْهُ اَوَّلَ مَرَّةٍ وَّلِيُتَبِّرُوْا مَا عَلَوْا تَتْبِيْرًا

Artinya: ”Jika berbuat baik, (berarti) kamu telah berbuat baik untuk dirimu sendiri. Jika kamu berbuat jahat, (kerugian dari kejahatan) itu kembali kepada dirimu sendiri. Apabila datang saat (kerusakan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu, untuk memasuki masjid (Baitulmaqdis) sebagaimana memasukinya ketika pertama kali, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai.”

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Jika direnungkan lebih mendalam, kita sebenarnya tak perlu khawatir dengan pemikiran jika bersedekah maka harta kita akan berkurang. Secara matematika memang apa yang kita miliki akan berkurang, jika milik kita diberikan pada orang lain. Namun dengan bersedekah, hakikatnya kita sedang menyucikan apa yang kita miliki sekaligus akan ditambah oleh Allah swt dengan berlipat ganda. Rasulullah menegaskan dalam haditsnya:

 مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ

Artinya: ”Sedekah tidak akan mengurangi harta. Tidak ada orang yang memberi maaf kepada orang lain, melainkan Allah akan menambah kemuliaan untuknya. Dan tidak ada orang yang rendah hati karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Selain dengan bersedekah, kita juga bisa menjalin kebersamaan dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban. Selain sebagai upaya melatih diri sebelum melaksanakan puasa satu bulan penuh di bulan Ramadan, puasa di bulan Sya’ban juga bisa mengasah kepekaan kita terhadap kesusahan orang lain dengan merasakan kondisi lapar dan dahaga.

Selain itu dengan puasa, kita juga dididik untuk dapat mengekang hawa nafsu yang dapat merugikan orang lain di antaranya melalui ucapan dan tingkah laku yang kita perbuat. Dengan puasa, mulut akan terkunci untuk mengeluarkan kata-kata yang dapat menyakiti orang lain sehingga tingkah laku kita pun akan terarah.

Dengan puasa akan dihindarkan dari perbuatan negatif yang bisa menyakiti dan merugikan orang lain. Disebutkan dalam hadits Qudsi:

 كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Artinya: ”Allah Azza wa Jalla berfirman: “Setiap amal seorang manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasan kepadanya. Puasa itu adalah perisai, karena itu apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah mengucapkan perkataan yang buruk dan keji, jangan membangkitkan syahwat dan jangan pula mendatangkan kekacauan. Apabila ia dimaki atau ditantang seseorang, maka katakanlah: Aku sedang berpuasa,..”. (HR. Bukhari).

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah

Akhirnya dari paparan ini, khatib mengajak kepada semua jemaah untuk menjadikan Nisfu Syaban menjelang hadirnya bulan Ramadan ini sebagai momentum untuk menguatkan kebersamaan melalui kepekaan sosial yang bisa menumbuhkan kebahagiaan bagi diri dan orang lain.

Mari bersama bersuka cita akan hadirnya Ramadan dan semoga kita diberi kesempatan bertemu dengan bulan Ramadan dan bisa memaksimalkan ibadah kita. Amin

 اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ رَجَبَ وَشَعْبَانَ وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ بِرَحْمَتِكَ يَااَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْاٰنِ الْعَظِيْمِ وَنَفَعَنِي وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْاٰيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ اِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَا نَجَاةَ التَّائِبِيْن

Khutbah II

 الْحَمْدُ لِلّٰهِ الْاَحَدِ الصَّمَدِ الَّذِيْ لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالْإِتِّحَادِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ دَعَانَا بِحُبِّ الْبِلَادِ. الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَ لِلْعَالَمِيْنَ اِلَى يَوْمِ الْمَعَادِ أَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. فَقَالَ اللٰهُ تَعَالَى اِنَّ اللٰهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰأَيُّهَا الَّذِيْنَ أٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَ سَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى اٰلِ سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ فْي الْعَالَمِيْنَ اِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ اَللّٰهُمَّ وَارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ. وَعَنْ اَصْحَابِ نَبِيِّكَ اَجْمَعِيْنَ. وَالتَّابِعِبْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِيْنَ وَ تَابِعِهِمْ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالطَّاعُوْنَ وَالْاَمْرَاضَ وَالْفِتَنَ مَا لَا يَدْفَعُهُ غَيْرُكَ عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا اِنْدُوْنِيْسِيَّا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا اٰتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِي الْاٰخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ عِبَادَ اللٰهِ اِنَّ اللٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ. يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذْكُرُوا اللٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ. وَ اشْكُرُوْهُ عَلٰى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ. وَلَذِكْرُ اللٰهِ اَكْبَرُ

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: nu.or.id

hukum salat jumatibadah di hari jumatjangan lupa jumatankhotbah jumatSambut ramadan