Editorial

Darurat Perlindungan Perempuan dan Anak

Zulkifli Fahmi
fahmi.murianews@gmail.com

Darurat perlindungan perempuan dan anak terjadi di wilayah Muria Raya. Belum lama diberitakan seorang anak diduga menjadi korban penyekapan dan dijadikan budak seks oleh terduga pelakunya.

Peristiwa di Kabupaten Pati, Jawa Tengah itu mengundang keprihatinan. Sebab, korban masih seusia anak SMP dan mengalami trauma psikologis yang berat serta hamil empat bulan.

Diberitakan, terduga pelaku merupakan orang yang baru dikenal oleh korban melalui media sosial. Ia kemudian saling bertemu di sebuah tempat di Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati.

Sejak pertemuan sekitar awal Mei 2022 itu, korban tak pernah pulang ke rumah. Pihak keluarga korban pun sudah melakukan upaya pencarian, namun nihil.

Baru sekitar awal Agustus, keberadaan korban diketahui. Ternyata korban berada di rumah terduga pelaku.

Terduga pelaku sendiri pergi saat rumahnya digerebek aparat terkait dan menemukan korban di sana dalam kondisi memprihatinkan.

Para tetangga terduga pelaku menyebut tak ada penyekapan. Menurut pengakuan para tetangga itu, korban dan pelaku sering pergi berduaan. Namun, mereka terkejut dengan kondisi korban yang menjadi kurus seperti tak terurus.

Bahkan menurut tetangga terduga pelaku, korban sudah berada di sana sejak sebelum Lebaran 2022. Meski bukan sebagai pasangan resmi, para tetangga justru menganggap itu hal biasa.

Di Kabupaten Jepara, perkara kekerasan seksual pada perempuan dan anak juga cukup tinggi. Dalam enam bulan pada 2022 ada 13 kasus kekerasan seksual di Kabupaten Jepara. Dari jumlah itu, terdapat 10 korban yang masih berusia anak.

Kemudian di Kudus, delapan santriwati yang masih di bawah umur dicabuli oleh oknum guru ngaji pada awal tahun 2022 lalu. Pelaku sendiri sudah ditangkap dan diproses hukum.

Selanjutnya, April 2022 seorang anak diperkosa ayah tirinya di Kabupaten Grobogan. Diketahui, pelaku melakukan pemerkosaan berkali-kali hingga akhirnya, sang anak menangis curhat ke ayah kandungnya. Peristiwa itu kemudian dilaporkan kepolisian dan tersangka berhasil ditangkap.

Rentetan kejadian itu menjadi warning atau peringatan darurat perlindungan anak.

Sebagaimana mestinya, anak harus dilindungi. Tak hanya orang tua yang punya beban besar, namun juga lingkungan dan keluarga.

Kepedulian terhadap sesama dan sikap saling tolong-menolong perlu menjadi landasan utama dalam bersosial. Ingat, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Ayo kita cegah kekerasan pada anak dan perempuan sejak dini. Segera laporkan bila melihat adanya tindak kekerasan pada anak dan perempuan. Jangan sampai masa depan mereka direnggut gegara trauma psikologis akibat kekerasan. (*)

Darurat Perlindungan Perempuan dan Anak