Mulai Diminati, Jumlah Pembatik Ecoprint di Kudus Naik Tiga Kali Lipat

Sejumlah pembatik saat membuat kain batik ecoprint. (Murianews/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Minat masyarakat Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, untuk membuat batik ramah lingkungan alias batik ecoprint semakin bertambah. Hal tersebut, dibuktikan dari meningkatnya jumlah perajin maupun pembatik yang serius menekuni seni batik tempel tersebut.

Komunitas Batik Ecoprint Kudus selaku wadah dari para pembatik pun mencatatkan kenaikan jumlah pembatik. Kenaikan jumlah pembatik, bahkan telah mencapai tiga kali lipat.

”Ecoprint ini kan mulai kami kenalkan di Kudus pada tahun 2020 lalu, dari yang hanya sembilan orang, kini sudah ada 33 orang perajin yang serius menekuni dunia ecoprint,” kata Founder Komunitas Batik Ecoprint Kudus Helma Susanti.

Mayoritas dari mereka, lanjut Helma, juga merupakan seorang penjahit. Ini merupakan satu hal baik untuk kemajuan batik ecoprint di Kota Kretek.

”Sistemnya kebanyakan mereka membuat batik ecoprint, kemudian menjahitnya menjadi baju hingga busana lainnya. Sebuah langkah bagus untuk lebih mengenalkan batik ecoprint di masyarakat,” ujarnya.

Baca: Ramah Lingkungan, Jadi Alasan Perempuan Kudus Ini Bikin Produk dari Ecoprint

Helma mengungkapkan, sistem seperti ini juga bisa menguntungkan para pembatik. Mereka akan mendapat nilai lebih atas komoditas yang mereka ciptakan.

”Ecoprint ini sebenarnya sangat potensial, hampir sama seperti batik tulis. Satu kain ecoprint sepanjang dua meteran itu bernilai Rp 250 ribu. Andaikan itu telah dibuat jadi pakaian, harganya bisa naik sampai dua kali lipat,” sambung Helma.

Komunitas Batik Ecoprint Kudus sendiri, sambung Helma, sangat mempersilahkan pembatik-pembatik baru bila ingin bergabung dengan mereka.

”Tentu silahkan bergabung di sini, kita bisa sharing pengalaman dan bisa membatik bersama,” pungkasnya.

Baca: Batik Menara Kudus Ini Bisa Ditebus dengan Harga Segini

Batik ecoprint adalah batik yang hanya menggunakan pewarna dari alam dan tanpa campuran bahan pewarna tekstil pabrikan.

Biasanya pewarna yang digunakan adalah warna-warna dari dedaunan. Seperti daun betadine, daun jati, jambu, hingga daun lanang.

Masing-masing daun, akan memiliki warna yang berbeda-beda. Untuk daun pohon jati, akan berwarna ungu. Sementara daun jambu biasanya berwarna kehitaman.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

batikBerita KudusEcoprintkudus