Merajut jadi Rezeki, Kisah Bisnis Turun Temurun Retno Miranti

Perajin rajut asal Kudus, Retno Miranti sedang merajut di teras rumahnya. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Tradisi merajut di keluarga bisa menjadi sarana pendulang rezeki. Setidaknya, hal ini yang dialami oleh Retno Miranti, perempuan di Desa Kramat, Kecamatan Kota Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Ia kini fokus menjadi perajin rajutan, menuruskan tradisi yang digeluti keluarganya sejak tiga generasi sebelumnya. Generasi sebelumnya dijalani oleh buyut, nenek, dan ibunya.

“Saya memulai kerajinan rajut tahun 1996. Sempat dilarang suami kerja karena diminta merawat anak. Akhirnya saya melanjutkan kerajinan dari rajut,” katanya saat ditemui di rumahnya di RT 06, RW 04, Desa Kramat, Kamis (19/5/2022).

Ira menamai usahanya RA Craft. Nama tersebut diambil dari nama dirinya dan nama suaminya.

“RA itu R nya Retno. Sedangkan A nya Atmadi yang merupakan nama suami saya,” terangnya.

Baca: Kreatif! Perempuan di Kudus Ini Sulap Stocking jadi Kerajinan Bunga Hias

Saat mulai menekuni pada tahun 1996 itu beragam produk kerajinan rajut dibuatnya. Mulai dari taplak, tas, dan bed cover.

Seiring berjalannya waktu, produk di tempatnya bertambah banyak. Mulai dari sepatu rajut, tas, syal, dan taplak. Selain itu ada produk topi, outer perempuan, rok anak-anak, dan rompi anak.

Harga yang ditawarkan beragam. Produk sepatu rajut dijualnya seharga Rp 70 ribu hingga Rp 120 ribu.

Kemudian, produk tas ditempatnya dijual Rp 50 ribu hingga Rp 250 ribu. Sedangkan harga produk syal dijual seharga Rp 75 ribu hingga Rp 125 ribu.

Produk taplak di tempatnya seharga Rp 25 ribu hingga Rp 150 ribu. Untuk produk topi dijual Rp 50 ribu.

Outer cewek juga ada. Harganya Rp 100 ribu. Kalau rok anak-anak dan rompi anak-anak seharga Rp 75 ribu,” sambungnya.

Baca: Peci Goni Kudus Dipesan Tiga Negara, Diapresiasi Kemnaker

Pemasaran produk kerajinan rajut di tempatnya semakin meluas. Tidak hanya di Kudus saja tetapi juga merambah ke Yogyakarta, Surabaya, Jakarta, Lampung, dan beberapa daerah di Kalimantan.

“Pengerjaan kerajinan rajut itu saya kerjakan sendiri. Tidak ada pegawai. Kalau pemasarannya dari mulut ke mulut karena saya gaptek kalau soal teknologi jadi tidak bisa memasarkan online,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Berita Kudusinfo kudusJatengkabar kudusKerajinan Tangankuduskudus hari inirajut