OPINI

Ibu dan Bahasa Ibu

Lina Kushidayati *)

FAKTA sejarah keberadaan bahasa dunia ada sejak tahun 3200 SM yang terdeteksi dalam catatan dan lukisan di gua dan artefak kuno. Ada sepuluh bahasa tertua/pertama di dunia yang dikenal.

Yakni (1) Mesir Koptik yakni peninggalan Mesir Kuno di Lembah Sungai Nil tahun 6000 SM oleh manusia yang kehidupannya berburu dan meramu, selanjutnya era Dinasti pertama Mesir tahun 3100 SM yang terdeteksi melalui makam berusia 3200 SM. Bahasa Koptik digunakan komunikasi hingga abad ke-17 kemudian tergantikan oleh Bahasa Arab hingga kini.

Kemudian (2) Yunani yakni Bahasa Indo-Eropa yang akar bahasanya dari Kreta dan Siprus yang digunakan sejak abad ke-16 SM. (3) Sansekerta Veda merupakan bahasa dalam sastra Hindu Kuno sejak 3500 tahun lalu di India Kuno. (4) Tamil sebagai bahasa non-Sansekerta di India sejak 300 SM, (5) China yang bahasanya digunakan oleh Dinasti Shang era 300 M sebagai induk bahasa China Modern, (6) Aram di Suriah tahun 3500 SM era perunggu.

Selanjutnya (7) Ibrani sebagai bahasa dalam kitab suci tapi pada periode 200-400 M tidak digunakan dan abad ke-19 dituturkan lagi, (8) Latin digunakan di Roma abad ke-7 SM, (9) Persia/Farsi yang digunakan penduduk Iran Kuno tahun 600 SM. Dalam perkembangannya pada tiga periode, Persia Kuno (525-300 SM), Persia Tengah (300 SM-800 M), dan Persia Modern.

Dan (10) Arab yang digunakan kisaran abad 1 M. Adapun bahasa kuno yang masih eksis yaitu Ibrani, Sanskerta, Tamil, Yunani, Arab, China, Nahuati, dan Euskara/Basque. Dengan demikian, banyaknya bahasa dunia kuno yang tumbang karena dinamika.

Ibu dan Bahasa

Bahasa ibu merupakan bahasa yang kali pertama kali dikenal oleh penutur bahasa yakni tatkala anak bisa berbicara. Upaya mengenang bahasa ibu, tiap tanggal 21 Februari diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu (HBI).

HBI Internasional dideklarasikan kali pertama oleh Unesco pada 17 November 1999. Pusat Bahasa Kemendikbud RI pada Oktober 2019 memetakan bahasa-bahasa daerah menjadi bahasa ibu bangsa Indonesia sejumlah 718 bahasa.

Hanya saja, muncul keprihatinan dengan lunturnya bahasa daerah karena terdesak oleh bahasa nasional (Indonesia) dan bahasa asing/dunia karena kedua bahasa itu digunakan oleh sang ibu yang memiliki bahasa daerah. Pemicunya, bahasa nasional menjadi pengantar di sekolah/kampus dan sang ibu/bapak tidak menggunakan bahasa daerah/ibu tatkala anak di rumah dan di lingkungannya.

Anehnya, menggunakan bahasa nasional di rumah menjadi kebanggaan sang ibu/bapak. Bila hal ini tidak disadari maka anak akan asing pada bahasa daerahnya. Bangga berbahasa ibu/daerah disikapi oleh penyelenggara pendidikan formal dengan mata pelajaran bahasa daerah yang muatan dan alokasi waktunya terbatas. Begitu pula bangga berdialek/berlogat khas di tiap daerah sebagai ciri bahasa daerah dengan tidak malu menggunakannya, asal etika (unggah-ungguh) berbahasa dikedepankan.

Perlunya tanggung jawab bersama antara pemda, lembaga pendidikan, dan warga agar bangga berbahasa ibu di rumah dan di lingkungannya bila bahasa daerah tidak ingin luntur atau bertamu di rumah sendiri, Bijak berbahasa sebagai ciri warga berbudaya. Nuwun. (*)

 

*) Dosen IAIN Kudus

bahasa ibuhari bahasaOpini