Mitos di Grobogan, Pasangan Ngalor-Ngetan Bikin Ada Keluarga Meninggal

Pendopo Bupati Grobogan. Warga Grobogan masih banyak yang percaya mitos terkait Adat Kejawen Ngalor-Ngetan. (Murianews/Saiful Anwar).

MURIANEWS, Grobogan – Salah satu mitos yang terkenal di Kabupaten Grobogan adalah larangan memiliki pasangan yang rumahnya Ngalor-Ngetan (ke utara lalu ke timur).

Bila dilanggar akan ada keluarga yang meninggal. Kepercayaan Kejawen itu masih dipercayai sebagian warga Grobogan hingga kini.

Yang dimaksud Ngalor-Ngetan itu ketika tempat tinggal pria dan wanita membentuk sudut siku. Yakni untuk menuju ke rumah pasangan harus melalui jalan ke utara kemudian ke timur.

Sebagai contoh, si pria tinggal di Desa Depok, Kecamatan Toroh. Kemudian memiliki pasangan yang tinggal di Kecamatan Wirosari. Dari Toroh ke Wirosari harus ke utara dulu melewati Kecamatan Purwodadi, baru ke timur. Pasangan ini disebut Ngalor-Ngetan.

Menurut Kepala Desa Ketangirejo, Kecamatan Godong, Suwarni (49), memang masih banyak warga Grobogan yang percaya mitos tersebut, tak terkecuali warganya.

Baca juga: Mitos Orang Kudus Dilarang Nikahi Orang Pati, Ternyata Ini Awal Mulanya

Kejadian-kejadian menyedihkan yang menimpa pasangan Ngalor-Ngetan pun dihubung-dihubungkan karena melanggar adat Kejawen itu.

“Ada yang tetap diterak (nekat melanggar aturan, red) meskipun Ngalor-Ngetan. Ternyata setelah punya anak usia 4 tahun, anak itu kecelakaan meninggal. Lalu dihubung-hubungkan itu karena Ngalor-Ngetan,” kata dia, Sabtu (15/01/2022).

Selain itu, ada pula pasangan yang melanggar adat Ngalor-Ngetan, setahun kemudian ada orangtua salah satu pasangan yang meninggal. Kemudian, ada pula yang orangtua si pria sakit, setelah sembuh gentian orangtua si wanita.

“Tapi banyak juga yang Ngalor-Ngetan, keluarganya baik-baik saja. Kepercayaan orang kan beda-beda. Tapi memang masyarakat begitu, kalau kejadian buruk menimpa pasangan Ngalor-Ngetan, biasanya langsung dihubung-hubungkan,” terangnya.

Sekretaris Desa Pilangpayung Kecamatan Toroh, Bambang Supriyanto (47), bercerita bahwa dirinya dan istri termasuk pasangan Ngalor-Ngetan. Sebab, dia tinggal di Dusun Ngloram, Desa Pilangpayung, sedangkan sang istri dulunya adalah warga Desa Sugihan, Kecamatan Toroh. Apabila ditarik garis dari rumahnya ke rumah istri, maka termasuk Ngalor-Ngetan.

“Masih banyak yang percaya mitos itu, tapi saya nyatanya baik-baik saja. Saya dan istri kan termasuk Ngalor-Ngetan. Sampai sekarang juga tidak ada masalah. Saya menikah tahun 2002, bapak saya meninggal 2012 dan ibu 2018 karena sudah sepuh (tua),” terang Bambang.

Meski begitu, dia tak menampik memang banyak warga di desanya yang masih percaya pantangan menikah Ngalor-Ngetan. Bambang mengatakan, banyak pula warganya yang gagal menikah meski sudah pacaran karena si orangtua percaya pantangan Ngalor-Ngetan.

“Yang percaya masih banyak. Ada yang sudah pacaran, anaknya sudah saling cocok, tapi karena Ngalor-Ngetan, tidak jadi nikah ya banyak. Biasanya kalau terjadi sesuatu begitu dihubung-hubungkan,” tukasnya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

#mitosGROBOGANinfo groboganinfo muria