Persipa dan PSG Pati Bagaikan Bumi dan Langit

Persipa dan PSG Pati. (grafis/Murnews)

MURIANEWS, Pati- Persipa dan PSG Pati adalah dua tim yang sama-sama berasal dari Pati. Saat ini mereka sama-sama tengah berkompetisi.

Membandingkan dua tim ini bagaikan  bumi  dan langit . Persipa Pati adalah manifestasi sepakbola pribumi dari Bumi Mina Tani. Persipa lahir dari kultur sepakbola di wilayah Pati. Di dalamnya tentu bersemayam kecintaan, loyalitas dan spirit murni dari masyarakat Pati.

Kemunculan PSG Pati yang secara tiba-tiba pada musim ini, bisa jadi ‘memecah’ bentuk apresiasi para penggemar sepakbola di Pati. PSG Pati adalah produk kekuatan modal sepakbola. Muncul sebagai salah satu upaya instan untuk membawa sepak bola Pati lebih semarak dan bergairah.

Bermain di Liga 2, dengan kekuatan modal besar, PSG Pati sempat menjadi salah satu fenomena baru di sepakbola nasional. Persiapan mereka bahkan bisa disebut sangat ‘wah’ untuk tim sekelas Liga 2.

Dari materi pemainnya, PSG Pati disebut-sebut sebagai tim Liga 1. Sejumlah nama yang sebelumnya berlaga di Liga 1 diboyong. Juga pemain berlevel timnas diboyong juga. Nurhidayat Haji Haris, Yudha Febrian, Sutan Zico, Zulham Zamrun, Saiful Indra Cahya dan Risky Novriansyah, adalah nama-nama yang tak asing di kancah sepakbola nasional.

Persiapan mereka dilalui dengan pertandingan-pertandingan ujicoba melawan tim-tim besar di Liga 1. Ekstravaganza juga dilakukan saat mengenalkan tim belambang Kuda Jingkrak ini. Para pemainnya dijadikan sebagai selebritas, dalam upaya membangun image klub.

BACA JUGA: Gol Bunuh Diri Persekap Antarkan Persipa ke Semifinal

Namun apa yang dilakukan PSG Pati, mendadak ‘hancur’ justru saat mereka memasuki kompetisi. Dari 9 pertandingan sejauh ini mereka hanya bisa menang 2 kali, imbang 2 kali dan lima kali kalah.

Masalah-masalah non tehnis yang juga terjadi di PSG Pati pada akhirnya merugikan mereka. Sanksi-sanksi yang mereka terima karena mentalitas buruk beberapa pemainnya sangat berdampak bagi mereka. Selain denda uang, sanksi yang paling merugikan adalah sanksi pengurangan 4 poin yang harus mereka terima.

Situasi yang terjadi kini menempatkan PSG Pati menjadi salah satu dari dua tim yang terancam degradasi. Pertandingan terakhir, Selasa (30/11/2021) sore melawan PSHW, akan menentukan mereka apakah masih tetap berlaga di Liga 2 atau justru terjerembab ke Liga 3.

Hukuman pengurangan nilai 4 poin membuat poin mereka yang seharusnya 8 dan aman, kini berubah hanya menjadi 4 poin saja. Jumlah poin ini hanya berselisih 1 dengan PSHW, yang akan dihadapi. Mereka perlu hasil imbang untuk lepas dari degradasi. Namun semuanya menjadi tidak mudah, melihat situasi yang terjadi.

Lalu bagaimana dengan Persipa Pati? Tim Laskar Saridin yang ‘megap-megap’ dalam masalah pendanaan ini, justru tampil superior di Liga 3 Jawa Tengah. Terakhir, Persipa Pati sudah memastikan diri melaju ke semifinal Liga 3 Jawa Tengah.

Sempat terancam tidak bisa berangkat berkompetisi karena kehabisan dana, Persipa Pati kini muncul menjadi kekuatan baru di Sepakbola Jawa Tengah. Mengikuti bagaimana kiprah para pengurus dan pendukung Persipa yang pontang-panting mencari dana, tentu apa yang ditampilkan tim Persipa merupakan sebuah anomali di sepakbola.

Dengan ‘dana cupet’ Tim Persipa Pati nyatanya bisa tampil dengan komitmen tinggi. Bahwa Persipa kini mampu melaju hingga ke semifinal Liga 3 Jawa Tengah, adalah bukti bahwa ‘kemewahan’ sebuah tim sepakbola tidak selamanya menjadi faktor keberhasilan dalam berprestasi.

Lalu, jika melihat PSG Pati yang begitu ‘wah’, namun gagal total di Liga 2, maka juga bisa dikatakan, ‘kemewahan’ sebuah tim sepakbola tidak selamanya berbanding lurus dengan prestasi yang dihasilkan. PSG Pati dan Persipa Pati jelas berbeda level di semua sisi. Tapi sepertinya Persipa masih tetap menjadi kebangaan para penggemar sepakbola di Pati.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje

Liga 2Liga 3 Jawa TengahpersipaPersipa patipsg pati