OPINI

Menjadi Guru di Era Disrupsi

Hamam Fitriana *)

TANGGAL 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Ucapan selamat hari guru bertebaran di pelbagai lini masa. Hal itu dapat diartikan sebagai salah satu bentuk apresiasi terhadap jasa para guru yang secara heroik kita eluh-eluhkan sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Guru menjadi garda terdepan dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga guru, perlu membekali diri dengan berbagai pengetahuan, wawasan, dan pengalaman. Selain itu, guru perlu membuka diri terhadap perubahan-perubahan yang terjadi.

Di era disrupsi, perubahan terjadi begitu cepat. Inherenitas perubahan yang tidak bisa ditawar-tawar ini mengharuskan guru untuk adaptif dan responsif sehingga guru mampu memobilisasi roda pendidikan sesuai perkembangan dan tuntutan zaman.

Bukanlah isapan jempol semata melihat perubahan yang begitu cepat bahkan tidak dinyana-nyana ini. Terjadinya pandemi covid-19 menjadi bukti nyata yang dirasakan di ranah kesehatan, ekonomi, sosial, dan tak terkecuali pendidikan. Pandemi mengharuskan guru berpikir dan bertindak cepat dan tepat.

Saat pandemi melanda negeri ini, adaptasi hidup baru mulai diterapkan. Di dunia pendidikan, kegiatan pembelajaran dilakukan secara daring padahal sebelumnya dilakukan secara luring. Begitupula saat kasus pandemi Covid-19 mulai mereda, kegiatan luring berlahan-lahan mulai diterapkan meski dengan mengikuti kebijakan otoritas terkait.

Jika merujuk pada Inmendagri, penyelenggaraan pembelajaran tatap muka (PTM) terbatas maksimum 50 persen. Selain itu, tata letak ruang kelas diatur dengan jarak minima 1,5 mater, dan  siswa masuk sesuai protokol kesehatan (prokes).

Pada saat daring guru mulai menggunakan pelbagai media masa. Penggunaan Zoom Meeting, Google Meet, WhatsApps menjadi rutinitas dalam kegiatan pembelajaran. Guru mau tidak mau harus belajar mengoprasikan teknologi dan menyajikan materi yang tepat sekaligus menyenangkan dalam pembelajaran daring.

Penyelenggaraan PTM terbatas saat luring, guru juga perlu menyajikan pembelajaran dengan sedemikian rupa. Prokes diterapkan saat pembelajaran, sehingga tidak ada aktivitas-aktivitas yang menyebabkan adanya kotak langsung atau terjadi kerumunan.

Inherenitas perubahan di saat pandemi bagi guru yang progresif terhadap perubahan, pandemi bukanlah sebuah alasan. Keinginan untuk terus belajar memperoleh pengetahuan dan pengalaman sebanyak-banyaknya, menjadikan guru progesif mampu beradaptasi dengan pelbagai keadaan.

Sedangkan bagi guru yang konservatif atau reaksioner terhadap perubahan, terjadinya pandemi covid-19 membuat mereka terkena efek kejut. Perubahan dratis dalam kegiatan belajar-mengajar tidak siap mereka hadapi. Perubahan menjadi musuh utama dalam kehidupan mereka dan guru tipikal ini cenderung mengeluh dan menyalahkan keadaan.

Dengan demikian, di era disrupsi, guru perlu membuka diri terhadap perubahan. Menjadi guru progesif menjadi aternatif untuk membawa perubahan yang berkemajuan dalam dunia pendidikan. Sehingga apa yang telah dicita-citakan para pendiri bangsa dalam mencerdaskan kehidupan bangsa bukanah slogan semata. Selamat Hari Guru Nasional. (*)

 

*) Guru MI Miftahussa’adah Blingijati, Winong, Pati

guruHari GuruOpini