Peninggalan Sultan Hadlirin di Kudus Ini Masih Jadi Tradisi yang Lestari Hingga Kini

Tradisi Ampyang Maulid digelar di Masjid Wali Loram Kulon beberapa waktu lalu. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Sultan Hadlirin tak hanya mempunyai arti penting bagi warga Kabupaten Jepara. Penguasa Kerajaan Kalinyamat ini juga mempunyai pengaruh bagi warga di Kabupaten Kudus.

Bahkan peninggalan-peninggalanya masih banyak dijumpai, termasuk tradisi yang diturunkan oleh Sultan Hadlirin.

Masjid Wali Loram Kulon yang memiliki nama asli Masjid At-Taqwa yang terletak di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus menjadi salah satu peninggalanya. Masjid ini dibangun oleh Sultan Hadlirin pada 1597 silam.

Berdasarkan cerita, Sultan Hadlirin merupakan seorang putra Sultan Aceh yang bernama Syekh Mukhayyat. Sultan Hadlirin pernah menikah dengan Ratu Kalinyamat. Namun, karena beberapa tahun tak kunjung dikaruniai anak, Ratu Kalinyamat mempersilahkan Sultan Hadlirin untuk menikah lagi.

Akhirnya, Sultan Hadlirin kemudian menikah lagi dengan putri Sunan Kudus yang bernama Raden Ayu Pridobinabar. Sultan Hadlirin ditugasi Sunan Kudus untuk menyebarkan agama Islam di Kudus bagian selatan.

Warga menunjukkan nasi kepel, sebagai salah satu tradisi peninggalan Sultan Hadlirin. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Saat itu Sultan Hadlirin memilih Desa Loram Kulon. Menurut Juru Pelihara Gapura Masjid Wali Loram Kulon, Afroh Amanuddin, ada tiga peninggalan Sultan Hadlirin yang hingga kini masih dilestarikan warga.

“Ada nganten mubeng, tradisi nasi kepel, dan ampyang maulid. Ketiganya merupakan tradisi budaya dari penyebar Islam di sini yakni Sultan Hadlirin,” katanya, Sabtu (17/4/2021).

Lebih lanjut, Afro mengatakan kirab nganten mubeng dilakukan bagi kedua mempelai yang sudah melakukan prosesi akad nikah. Mekanismenya melewati gapura Padureksan dari selatan ke utara.

Sedangkan tradisi nasi kepel, menurut Afro yakni tradisi bersedekah dengan cara mengirim nasi kepel ke Masjid Wali Loram Kulon. Biasanya dilakukan masyarakat setempat yang memiliki hajat seperti khitanan, membangun rumah, melahirkan, menikahkan anak, dan lainnya.

“Nasi kepel isinya nasi dan bothok. Biasanya jumlahnya tujuh atau ganjil. Angka tujuh atau pitu merupakan simbol dari pitulung atau pertolongan, pitutur atau nasehat, dan pituduh atau petunjuk menjalani hidup,” ungkap Afroh.

Lalu, untuk tradisi Ampyang Maulid diselenggarakan setiap tanggal 12 Robiul Awal. Tradisi Ampyang Maulid ini biasa diperingati dengan arak-arakan gunungan kerupuk dan sego kepel.

“Tradisi-tradisi tersebut masih terus kami lestarikan sebagai bentuk nguri-uri budaya,” imbuh Afroh.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

jeparakalinyamatkudussultan hadlirinsunan mantingan