UMKM di Kudus Mulai Bergeliat Usai Terpuruk Diterpa Pandemi 

MURIANEWS, Kudus – Sejumlah usaha mikro kecil menengah (UMKM)  di Kabupaten Kudus mulai menunjukkan geliatnya. Sebelumnya kelompok usaha ini sempat mati suri di kala awal masa pandemi.

Salah satunya adalah perajin pisai di Desa Hadipolo, Kecamatan Jekulo, Kudus. Para pelaku UMKM kerajinan pisau mengaku kini mulai mendapatkan pesanan kembali dari pembeli.

“Mulai ada pesanan pisau sejak adanya pelonggaran aktivitas,” kata Sahri Baedlowi perajin pisau di Desa Hadipolo, Rabu (14/10/2020).

Sahri mengatakan, pesananannya mulai bertambah seiring dengan banyaknya aktivitas pernikahan walau secara kecil-kecilan. Karena memang kebanyakan pesanan pisaunya digunakan untuk suvenir pernikahan.

Walau memang, pesanan yang diterima belum sebanding sebelum pandemi. “Kalau sebelumnya bisa sampai seribu pisau, kalau sekarang mungkin hanya sekitar 200 pisau,” ujarnya.

Pedagang besar yang biasa menjual pisau hasil kerajinan, lanjut dia, juga mulai melakukan order. Walaupun, masih sedikit karena disesuaikan dengan permintaan pasar. “Paling sekitar 20 kodi, belum banyak-banyak,” jelas dia.

Baca: Penjualan Pisau di Sentra Pandai Besi Kudus Lesu Diterjang Pagebluk

Kemudian pada sektor kain dan busana, sejumlah perajin batik tulis juga mulai menampakkan aktivitasnya. Mulai dari berjualan dan promosi di media sosial hingga cara klasik dengan menguatkan merek.

“Untuk saat ini sudah cukup membaik walau belum seratus persen,” ucap pemilik Sanggar Muria Batik Kudus Yuli Astuti.

Di awal masa pandemi, dia mengakui sempat kelebihan stok batik. Hingga akhirnya mengakalinya dengan membuat masker batik.

“Penjualannya memang sempat lesu, kemudian mulai bergairah dan saat ini mulai banyak pesanan batik untuk dibuat pakaian,” paparnya.

Penjualan batik tulisnya saat sekarang, katanya, sudah mencapai 70-an persen dari penjualan normal sebelum pandemi.

Senada, Ummu Asiyati, pemilik Griya Batik Alfa Shofa juga mengatakan aktivitas ekonomi mulai berputar seiring berjalannya waktu. Selain penjualan batik yang mulai merangkak naik, penjualan masker batik juga turut beriringan naik. “Masker batik kian diminati, di kami harganya kisaran Rp 7 ribu hingga Rp 30 ribu,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

kuduspandemiUMKM