Film Ayah, Kisah Perjuangan Kader Ansor Kena PHK Saat Pandemi Hingga Jadi Juragan Beras

MURIANEWS, Kudus – Suatu hari, Ansori dipanggil ke ruangan bos (pimpinan) perusahaan tempatnya bekerja. Di ruangan itu, suasana menjadi tegang ketika sang bos  menyerahkan amplop berwarna putih.

Amplop itu berisi surat pemecatan dirinya. Ia diberhentikan, lantaran kondisi perusahaan yang goyah karena pandemi.

“Bapak sudah lama bekerja di sini. Saya tahu, tapi karena memang pandemi yang sangat mencolok ini, saya rasa perusahaan akan mengurangi beberapa karyawan. Ini dari kantor perusahaan,” ucap bos perusahaan sambil menyerahkan amplop pemecatan Ansori.

Lantas Ansori pun menjawab, “Jadi saya dipecat pak. Terus bagaimana tanggungan utang saya pada perusahaan?,” kata Ansori dengan raut muka yang kebingungan.

“Bagaimana lagi ya Pak Ansori?, perusahaan juga sangat berat sekali. Sudah begini saja, nanti utang bapak yang 50 persen ditanggung oleh perusahaan, dan yang 50 persen bapak tanggung sendiri,” ujar bos perusahaan memberikan pengertian kepada Ansori.

Percakapan tersebut, sekilas adegan yang diperankan Ansori dalam film Ayah produksi Pimpinan PAC Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kota, Kudus melalui Sorban Film Production.

M Fathul Munif Ketua PAC GP Ansor Kudus Kota (kiri) sosok yang menginspirasi film Ayah dan Ansori pemeran utama film Ayah. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Sutradara dan penulis cerita Irvan M Hussein menceritakan sekilas tentang film Ayah itu. Pemeran utama dalam film tersebut yakni Ansori.

Diceritakannya, Ansori sebagai sosok seorang ayah dan juga sebagai kader Ansor Kecamatan Kota, yang mengalami dampak dari pandemi corona. Ia dipecat dari perusahaan di mana tempat Ansori bekerja.

“Pemecatan itu, lantas menjadi pukulan telak bagi Ansori. Karena selain tidak mempunyai usaha sampingan, Ansori juga masih memiliki tanggungan utang. Dukungan Imah (istri Ansori) membuat Ansori tetap semangat untuk berjuang bagi keluarganya,” jelasnya.

Meski terhimpit, Ansori tetap mengabdi untuk aktif dalam kegiatan Ansor. Baik di desa maupun di Kecamatan Kota. Dengan kondisi tersebut, tidak semua orang bisa memahaminya.

Para tetangga hampir setiap hari mencibir Ansori. Pihak keluarga juga mulai mempermasalahkan keaktifan Ansori di organisasi, padahal saat itu Ansori dalam kondisi kekurangan dan banyak tanggungan.

“Saat itu Ansori juga menjual motor satu-satunya untuk mempersiapkan biaya sekolah anaknya. Dengan bermodalkan sepeda tua peninggalan bapaknya, Ansori mencari kerja serabutan dan akhirnya Ansori menjadi tukang cuci piring di warung temannya,” terangnya.

Baca: Pandemi, Ansor Kota Kudus Sukses Garap Film Berjudul Ayah

Tak berhenti sampai di situ, cobaan masih terus menghinggapi. Dua orang penangih utang dari perusahaan lama datang ke tempat kerja barunya, untuk menagih.

Singkat cerita, berkat ketekunannya dalam berusaha dan berdoa akhirnya Ansori berhasil keluar dari masa sulitnya.

Itu terjadi setelah Ansori sowan serta menerima nasihat dari gurunya. Setelah itu Ansori bertemu dengan teman lamanya yang menekuni bisnis beras.

“Ansori belajar banyak dari teman lamanya itu. Kemudian Ansori ikut berbisnis beras dan berhasil mengembangkan bisnisnya. Akhirnya, Ansori berhasil menjadi juragan beras dan mampu membeli rumah baru, sekaligus dijadikannya sebagai Markas Ansor dan Banser Kota,” tandasnya.

 

Reporter : Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Ansorfilm ayahkudusNU