Dari Seminar BPIP di UMK: Begini Gejala Seseorang Berubah Menjadi Teroris

MURIANEWS, Kudus – Badan Pembina Ideologi Pancasila (BPIP) bekerja sama dengan Program Studi Magister Ilmu Hukum (MIH) Fakultas Hukum Universitas Muria Kudus (UMK) menyelenggarakan seminar nasional dengan tema “Penanaman Nilai-Nilai Pancasila dalam Mencegah Sikap Intoleran dan Radikalisme Pada Generasi Milenial”, Rabu (16/9/2020) Kemarin.

Dalam seminar ini dipaparkan bagaimana gejala seseorang terlibat dalam aksi terorisme. Kepala Unit Keamanan Khusus Satintelkam Polres Kudus yang hadir sebagai narasumber menyebut ada beberapa tahapan seseorang sampai pada tahap terorisme.

Penulis buku Menutup Celah Penyebaran Ideologi Teroris (MENCEPIT) itu mengatakan, bahwa ideologi radikal menjadi sumber awal tindakan terorisme.

“Untuk sampai pada tahap sebagai pelaku terorisme, maka seseorang akan mengalami beberapa tahap di antaranya terpapar yang ditandai dengan membenarkan propaganda paham radikal,” katanya.

Tahap berikutnya yakni berubah menjadi simpatisan. Ini ditandai dengan selalu mengikuti kegiatan-kegiatan komunitas radikal. Kemudian berubah menjadi radikal karena sudah menerima doktrin-doktrin.

“Dan ketika sudah berpaham radikal, maka pikiran dan sikap perilakunya akan menjadi fanatik, intoleran, eksklusif dan revolusioner,” ujarnya.

Setelah seseorang sudah berani melakukan aksi nyata maka itulah yang disebut teror. Sehingga untuk menanggulangi tindak pidana terorisme menurut dia, tidak tidak boleh hanya fokus pada satu titik yaitu perbuatannya saja, tapi juga pada penyebabnya.

Mempertimbangkan hal tersebut, lanjut Subkhan, maka penanggulangan tindak pidana terorisme bukan hanya tanggungjawab aparat keamanan semata. Namun semua lapisan masyarakat khususnya tokoh agama.

Mengingat pelaku terorisme berlindung menggunakan ajaran agama yang dipahami secara sepotong-sepotong dan secara tekstual.

“Penanggulangan tindak pidana terorisme bukanlah perang terhadap agama, melainkan perang terhadap kejahatan yang merusak bumi. Masyarakat yang membantu aparat negara juga bukan sedang memerangi agama, tapi membantu mewujudkan ketentraman bumi sebagaimana ajaran agama yang rahmatan lilalamin,” tandasnya.

Baca: Wakil Ketua BPIP: Toleransi di Kudus Patut Dicontoh

Peran masyarakat dalam pencegahan tindak pidana terorisme dinilai memiliki aspek penting bila dilihat dari sisi kemanusiaan, karena sama halnya dengan mencegah jatuhnya korban akibat aksi teror.

Sementara Dr  M Adnan, MA BPIP dan Ketua Penanganan Radikalisme dan Intoleransi Undip Semarang menilai bahwa pemahaman agama yang sempit dan hanya berdasar tekstual saja, akan cenderung menghakimi dan bersifat intoleransi. Selain itu, pembenaran atas perilaku menyimpang dengan dibalut ajaran agama pada prinsipnya justru merusak agama itu sendiri.

Sementara tokoh agama dan tokoh masyarakat Jateng, Prof Dr Muslim A Kadir menyatakan bahwa saat ini di Kudus sudah tidak dalam kapasitas menanamkan nilai–nilai Pancasila. Karena di Kudus sudah mengamalkan nilai-nilai tersebut sejak dulu.

“Indikatornya yakni budaya toleransi yang diwariskan oleh Sunan Kudus dan adanya beberapa kearifan lokal yang dijunjung tinggi masyarakat,” terangnya.

Kepala Program Studi MIH UMK Dr Hidayatullah, mengatakan bahwa seminar ini hanya diikuti sekitar 60 orang terdiri atas tokoh agama, masyarakat, ormas, FKUB, dan mahasiswa. Kegiatan juga diikuti secara daring oleh guru pengampu pendidikan Pancasila di wilayah eks-Karisidenan Pati.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

bpipkudusTerorismeum