Meski Viral, Film Tilik Tetap Tuai Pro Kontra, Dianggap Minim Edukasi

MURIANEWS, Jakarta – Kepopuleran film Tilik sepekan terakhir juga disertai dengan pro kontra soal konten yang diusung. Film pendek bahasa Jawa garapan Ravacana Films dan Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) itu memang tengah menjadi perbincangan banyak kalangan.

Film yang menceritakan perjalanan ibu-ibu perdesaan menaiki truk untuk tilik atau menjenguk orang sakit ini disebut-sebut minim edukasi.

Dikutip dari Solopos.com, Esais yang juga pengamat budaya pop, Hikmat Dharmawan, dalam akun twitter-nya menilai film tersebut melanggengkan stereotipe perempuan hanya sebagai penggosip dan penyebar hoax.

Hal itu sempat jadi perdebatan panjang hingga muncul dukungan maupun kritikan baru dari sejumlah sineas seperti Joko Anwar, Angga Dwimas Sasongko, dan Ernest Prakasa. Mereka juga tak memungkiri ini menjadi momen masyarakat melirik film pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.

Sepekan terakhir pengguna twitter juga ramai-ramai share link resmi film pendek lain. Misalnya film KTP milik Bobby Prasetyo, Lemantun milik Wregas Bhanuteja, atau Wan An karya Yandy Laurens.

Sang sutradara Wahyu Agung Prasetyo menjelaskan bahwa film Tilik mengusung cerita yang sangat kompleks. Berangkatnya dari realitas masyarakat setempat. Ia tak menampik adanya kritikan atas karyanya. Justru membuka ruang diskusi selebar-lebarnya bagi siapapun yang ingin memberikan masukan untuk film Tilik.

“Harapannya karena ini meledak, bisa dilihat dari sudut pandang distribusinya. Bagaimana film pendek bisa diterima semasif ini,” terangnya.

Di sisi lain, Sineas Solo, Bani Nasution, Minggu (23/8/2020), mengatakan viralnya Tilik didukung banyak hal. Termasuk publikasi dari pemerintah dan kondisi WFH yang membuat masyarakat banyak berselancar di dunia maya.

Ia mengatakan tak semua filmmaker harus mengunggah karyanya di kanal YouTube demi bertemu banyak penonton. Karena setiap sutradara punya goal berbeda-beda. Misalnya puas dengan karyanya ditonton kemudian dibahas bersama sebagai isu penting. Tak hanya dilihat lalu dilupakan.

Lebih lanjut, menurut Bani setiap filmmaker penting untuk tau cara punya statement yang kuat dan benar. Tak bisa asal viral dan ditonton banyak orang.

“Itu yang aku lihat masih banyak yang bolong. Misalnya [Tilik] secara kemasan dan gambar apik, acting apik, cuman kan statement-nya bermasalah. Misal para pemain perempuan di dalam truk dibuat tak semua berkerudung misal, itu sudah menyelamatkan. Kenapa harus berkerudung semua. Kenapa 30 menit hanya gibah tok,” kata dia saat diwawancara, Minggu (23/8/2020).

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Bu TejoFilmTilikYogya