Kisah Dewa Madu Asal Kudus, Sempat Gulung Tikar dan Jadi Kuli Bangunan

MURIANEWS, Kudus – Setiap orang pasti memiliki jalan hidup masing-masing. Di dunia bisnis, ada orang yang jalannya selalu mulus tanpa terkendala apapun. Namun juga tak sedikit yang sempat jungkir balik.

Seperti yang dialami oleh Noor Khasan (47) atau yang sering dipanggil Dewa Madu peternak lebah madu asal Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Diceritakannya, awal peternakan lebah miliknya ini dibuat oleh almarhum ayahnya sekitar tahun 1982.

“Dulu bapak saya pembuat gula tumbu. Tapi di tahun 1980an harga gula tumbu sempat down. Setelah itu ayah melihat orang angon (menggembala) lebah namanya Jenderal Sumadi Karsono, setelah itu bapak langsung tertarik,” katanya, Sabtu (4/7/2020).

Kemudian ayahnya pun menjual semua peralatan penggilingan tebu sebagai modal untuk beralih ke ternak lebah.

“Saya sendiri mulai tahun 1990an sudah mulai ikut membantu terjun di lapangan. Tapi kalau punya saya sendiri mulai tahun 1997,” jelasnya.

Noor Khasan yang dijuluki Dewa Madu asal Kudus. (MURI

Meski usahanya merupakan usaha regenerasi dari ayahnya, perjalanan bisnis ini tak semulus yang dibayangkan. Sebelumnya tahun 2000 ia mempunyai 200 buah stup (tempat sarang lebah madu), namun di tahun 2010 usahanya pun bangkrut.

“Sekitar tahun 2010 saya gulung tikar karena terkendala musim ekstrem tidak ada panas selama dua tahun tidak bisa panen. Akhirnya kehabisan modal dan semua ternak lebah rusak mati semua,” ujarnya.

Setelah itu ia tak menyerah begitu saja. Sembari menunggu cuaca normal kembali, ia pun merantau menjadi kuli bangunan di luar kota.

“Saya jadi kuli bangunan merantau ke Surabaya dan Jakarta untuk mencari modal lagi,” akunya.

Di tahun awal tahun 2011 ia pun memutuskan untuk berhenti menjadi kuli bangunan. Dan memutuskan untuk merintis kembali usaha peternakan lebah madunnya itu.

“Di tahun 2011 bulan empat saya mulai merintis lagi mulai awal. Bangkit lagi dengan awal hanya mulai ternak lebah sepuluh stup,” ucapnya.

Baca: Menengok Sentra Madu di Dukuhwaringin Kudus, Gembalakan Lebah Hingga Probolinggo

Secara bertahap setiap tahunnya ia mulai menambah kapasitas ternak lebahnya. Hingga sekarang ia sudah memiliki 100 buah stup, yang masing-masing stup berisi satu ratu lebah dan ribuan lebah pekerja. Sekali panennya bisa menghasilkan madu sekitar tiga kuintal madu.

“Dulu, alasan saya ingin bangkit lagi karena memang rasanya jiwa saya sudah menyatu dengan lebah. Alhamdulillah usaha saya merintis dari awal lagi tidak sia -sia, saat ini saya sudah mempunyai 100 stup lebah,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Dewa madukuduslebah