Menengok Sentra Madu di Dukuhwaringin Kudus, Gembalakan Lebah Hingga Probolinggo

MURIANEWS, Kudus – Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus yang berada di Lereng Gunung Muria merupakan salah satu desa sentral penghasil madu. Di daerah tersebut ada sekitar 20 peternak lebah.

Saat MURIANEWS berkunjung ke lokasi, nampak seratusan kotak kayu dengan panjang sekitar 55 cm, lebar 40 cm dan tinggi 30 cm nampak berjejer rapi di sebuah perkebunan yang asri. Kotak tersebut sering disebut stup yang berfungsi sebagai tempat sisir sarang lebah.

Di antara kotak stup itu terlihat ratusan lebah berterbangan saat beberapa orang tengah sibuk membuka stup sarang lebah untuk memanen madu.

“Saat ini saya punya seratus stup, tiap stupnya berisi delapan sisir sarang madu. Satu stupnya sendiri sekali panen bisa menghasilkan tiga kilo madu, jadi totalnya sekitar tiga kuintal. Itu hasil kalau panen normal,” kata peternak lebah madu malifera yakni Noor Khasan (47) asal Desa Dukuhwaringin, Sabtu (4/7/2020).

Ia menyatakan, di musim panen madu membutuhkan waktu sekitar dua pekan untuk sekali panen.

”Sekitar 10 hari sampai 15 hari kami panen terus. Satu bulannya bisa dua hingga tiga kali panen,” ujarnya pria yang akrab disapa Dewa Madu itu.

Noor Khasan memperlihatkan sarang madu yang akan dipanen. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Untuk proses panenya sendiri mulai dari proses pengambilan sarang madu dari stup hingga proses penyaringan madu. Biasanya proses panen madu hanya pada bulan Mei hingga November, selain bulan tersebut biasanya peternak hanya fokus untuk beternak dan membudidayakan lebah.

“Panennya biasanya saat musim kemarau, kalau musim hujan nektarnya tidak begitu banyak. Dan kebanyakan peternak juga hanya fokus untuk merawat lebah karena rentan mati kalau musim hujan,” ucapnya.

Menurutnya untuk mencari makan pada saat musim bunga, selain di daerahnya sendiri, seringkali ia harus menggembalakan lebahnya hingga luar kota, bahkan hingga luar wilayah Jawa Tengah.

“Mengembalanya tergantung musim bunga lebah berada di mana seperti bunga randu, kaliandra, karet, kopi, sengon, rambutan dan jenis bunga lain yang biasa dimakan lebah. Bisa sampai Wonosobo, Semarang, Parakan, Temanggung, Kendal, Kediri, Malang, Probolinggo dan daerah lainnya,” jelasnya.

Ia mengakui, saat pandemi in permintaan madu dari konsumen sangat meningkat drastis. Bahkan, ia sampai kewalahan untuk memenuhi permintaan konsumen.

“Kalau dulu sering diambil pengepul dari pabrik–pabrik produksi madu. Tapi sekarang saya jual sendiri satu botol ukuran 500 ml mulai dari harga Rp 70 ribu. Tergantung jenis madu yang pembeli minta,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

dukuhwaringinkudusmadu