OPINI

Memaknai Penundaan Haji Tahun 2020

Moh Rosyid *)

AL-QURAN surat Ali Imran: 97 menyebutkan jika berhaji merupakan kewajiban manusia pada Allah SWT, yakni bagi yang mampu memenuhi persyaratan ke Baitullah di Makkah. Ayat tersebut secara eksplisit menandaskan bahwa prasyarat berupa aman, mampu berbiaya, dan sehat fisik serta psikis tidak dapat ditawar.

Wabah penyakit yang diderita warga dunia hingga kini (Covid-19) menjadi faktor ditiadakannya haji, khususnya jemaah dari Indonesia yang telah diumumkan Kementerian Agama RI.

Ada 221.000 calon jemaah haji Indonesia tahun 2020, terdiri 203.320 kuota haji reguler dan 17.680 kuota haji khusus, baik pengguna visa haji dari pemerintah RI dan visa haji undangan khusus dari pemerintah Arab Saudi (furoda) dibatalkan keberangkatanya di tahun 2020.

Rencananya mereka akan diberangkatkan tahun 2021 M/1442 H. Bagi jemaah yang sudah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2020, dananya disimpan dan dikelola secara terpisah oleh Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) sehingga tak perlu khawatir, karena dijamin keamanan dananya atas dasar UU Haji.

Pandemi virus corona (Covid-19) yang belum mereda, sehingga rencana kloter pertama pada 21 Juni 2020 dan kloter lain harus menerima dengan lapang dada ditunda dan diagendakan tahun depan, mengapa?.

Pertama, Allah yang mewajibkan calon jemaah haji, Allah pulalah yang berkehendak menunda haji tahun 2020 atas kuasa-Nya melalui wabah global corona.

Kedua, manusia dengan kecanggihan teknologi ciptaannya dan kedigdayaannya menguasai alam raya, tapi, makhluk lembut, kecil (virus) atas kuasa Tuhan mampu mengubah rencana manusia yang katanya serba ingin berkuasa dengan kecanggihannya.

Ketiga, musibah global ini sebagai penanda bahwa manusia serba lemah, tidak berdaya maka tidak bijaksana menyombongkan atas kuasa jabatannya, hartanya, dan kewibawaannya yang pada dasarnya hanya atas kuasa Ilahi manusia berdaya dan mudah untuk tidak berdaya.

Keempat, mendekatkan diri (sebagai hamba) pada Tuhan untuk ditingkatkan melalui ibadah dan doa, baik doa individu maupun berjemaah. Dengan demikian, media berdoa (tempat ibadah) tidak dikosongkan dari peribadatan, meski harus menaati aturan pemerintah di bidang kesehatan, terutama daerah zona hijau (aman).

Banyak dan seringnya doa dimunajatkan secara kolektif maka peluang dikabulkan Tuhan kian besar. Semakin menjauh dari Tuhan dan mengosongkan tempat ibadah, semakin sukes iblis membuat galaunya kehidupan umat, meski mengaku beragama.

 

Bermukhasabahlah

Kata kunci mengakhiri pandemi: (1) Secara kompak menaati aturan pemerintah, (2) lebih mendekatkan diri pada Tuhan di kala suka, duka, bagi pejabat atau jelata, (3) kesombongan menjadi penyebab ujian Tuhan menimpa pada pihak yang dikehendaki-Nya.

Bila mau jujur, para agamawan dan umat yang taat dan selalu mendekatkan diri pada Tuhan tanpa pewatas dengan hidup sehat dan nihil/minim dosa, dialah yang selamat, galau pun tidak meski pemberitaan media tiap detik diakses publik.

Semoga wabah segera sirna atas rida-Nya dan kehidupan tidak lagi saling mencurigai hanya karena ada “bersin” lantas dikategorikan terjangkit. Nuwun. (*)

 

*) Penulis adalah dosen IAIN Kudus

Hajihaji dibatalkankabahOpini