OPINI

Perubahan Iklim Semakin Cepat dan Nyata

Wenas Ganda Kurnia *)

BANYAKNYA bencana Hidrologi dan Hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang dan gelombang tinggi beberapa tahun terakhir ini terjadi karena adanya perubahan iklim yang semakin cepat dan nyata. Perubahan iklim tengah menjadi pembahasan dunia dan sekarang saatnya bertindak.

Menghadapi perubahan iklim itu seperti apa?.

Dari dulu iklim selalu menentukan cara hidup kita, saat iklim berubah kita juga beradaptasi. Jadi apa bedanya dengan adaptasi dengan perubahan iklim yang terjadi sekarang dengan yang dulu?.

Ya, tentu saja iklim selalu berubah, namun kini perubahan yang disebabkan gas-gas rumah kaca, mengakibatkan peningkatkan efek rumah kaca di atmosfer dan terjadi dalam waktu yang sangat singkat yang akibatnya bumi semakin panas. Akibat bumi semakin panas, mulai berdampak pada mencairnya lapisan es di wilayah kutub.

Hal ini akan mengakibatkan pertambahan massa air di lautan, termasuk wilayah Indonesia, sehingga tinggi muka air laut akan meningkat. Dampak dari peristiwa ini adalah banyak wilayah pantai yang mengalami kebanjiran, erosi dan hilangnya daratan di pulau–pulau kecil serta masuknya air laut ke wilayah air tawar.

Beberapa wilayah di Indonesia sudah mengalami dampak dari hilangnya pulau – pulau kecil akibat naiknya tinggi muka laut. Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menunjukan bahwa selama ini telah terjadi peningkatan tinggi muka air laut sebesar 1–2 meter dalam kurun waktu  sekitar 100 tahun terakhir.

Jika kondisi ini terus berlanjut, maka negara kita yang memiliki sekitar 13.600 pulau akan mengalami dampak yang cukup serius. Masyarakat dan nelayan yang berdomisili di sekitar garis pantai akan semakin terdesak, bahkan kemungkinan kehilangan tempat tinggal.

Sedangkan diprediksi cuaca ekstrem akan semakin terjadi. Contohnya kekeringan, puting beliung, banjir dan longsor. Peristiwa semacam ini dapat menghancurkan rumah dan kehidupan manusia termasuk merusak infrastruktur, jalur komunikasi dan lebih parahnya dapat menghambat pembangunan nasional. Kemudian beberapa spesies yang tidak bisa menyesuaikan dengan kondisi sekarang, akan sulit untuk bertahan di habitatnya. Oleh karena itu, tidak jarang banyak binatang dan tanaman yang mati karena tidak bisa beradaptasi dengan habitatnya saat ini.

Perubahan iklim saat ini memang nyata, namun apakah perubahan ini akan semakin cepat.

Jawabannya: ”Itu semua tergantung pada gaya hidup kita”.

Jadi apakah kita cukup mengurangi emisi gas-gas rumah kaca? Jawabannya adalah tidak.

Andai kita dapat mengurangi emisi gas-gas rumah kaca sekarang juga, bumi tidak akan berhenti memanas dengan segera, karena banyak gas yang telah teremisi dari dulu. Dari itu sebabnya kita harus melakukan 2 (dua) hal yaitu mengurangi penggunaan alat-alat yang menghasilkan gas-gas rumah kaca dan adaptasi.

Mengurangi emisi gas-gas rumah kaca, dimulai dari diri kita sendiri dengan cara mengurangi penggunaan kendaraan bermotor, jangan membakar hutan dan pegang prinsip dasar 3R (Reuse, Reduce dan Recycle).

Reuse berarti menggunakan benda yang bisa digunakan lagi. Reduce berarti berhemat dan wajar dalam memakai produk yang merusak lingkungan, dan Recycle berarti mendaur ulang sampah yang masih bisa kita manfaatkan. Pemerintah juga telah mengambil beberapa kebijakan seperti penggunaan energi alternatif dalam kehidupan sehari-hari.

Energi alternatif ini dinilai aman terhadap atmosfer dan tidak menimbulkan polusi yang berlebihan. Contohnya saja adalah penggunaan bahan bakar gas pada kendaraan bermotor. Saat ini sudah banyak kendaraan transportasi umum yang menggunakan bahan bakar gas. Selain itu, upaya lainnya adalah reboisasi hutan.

 

Proyeksi Iklim Jadi Acuan Perencanaan

Proyeksi iklim tak dapat memperkirakan masa depan secara pasti, karena sebagian itu tergantung dengan cara bagaimana kita hidup dan memperlakukan alam.  Namun dari semua itu, apakah kita hanya bergantung pada kepastian untuk bertindak? Tidak. Kita sering mengambil tindakan berdasarkan pengalaman dan fakta.

Tanpa mengetahui kepastian yang akan terjadi di masa depan dan meski kita tidak tahu, semua yang akan terjadi pada iklim, kita cukup tahu bagaimana kita akan bertindak. Kita harus mampu memperhatikan dampak perubahan iklim sekarang dan masa depan.

Proyeksi iklim tidak serta merta diterjemahkan dalam strategi yang nyata, namun dapat menjadi acuan dalam perencanaan. Kita harus mempertimbangkan bahkan dampak perubahan iklim terhadap rencana pembangunan serta mempertimbangkan, apakah hal ini malah akan memperburuk perubahan iklim.

Salah satu kosekuensi yang akan terjadi adalah perubahan curah hujan, banjir dan kekeringan dapat terjadi pada satu tempat yang sama. Apakah rancangan tata kota harus diperbaiki atau diubah agar dapat fleksibel dalam menghadapi tantangan masa depan, bagaimana cara rencana adaptasi yang dapat meminimalkan efek terhadap ekonomi lokal dan kehidupan manusia.

Kota pantai di seluruh dunia terancam dampak dari perubahan iklim dari kenaikan air laut dan cuaca ekstrem. Apakah yang perlu dipertimbangkan perencana tata kota untuk menjadikan kota-kota ini menjadi kota yang lebih tanguh. Apa pilihan yang adaptasi yang paling tepat?  yang jelas, jawabannya adalah soal biaya, potensi dan dukungan sosial poltik dari pembuat kebijakan.

Sehingga dapat membantu menyusun prioritas metode adaptasi. Contohnya persiapan mengatasi banjir, restorasi lahan basah, perbaikan sistem drainase, dan pengelolaan pantai. Sedangkan contoh dalam bidang lain, yakni petani bersama pemerintah menganti padi biasa dengan padi bibit unggul.

Adaptasi adalah proses belajar, kita semua perlu memperbaiki strategi adaptasi, kita harus mengurangi gas-gas rumah kaca, dan beradaptasi tehadap perubahan iklim. Kita harus mulai dari sekarang bersama-sama, libatkan pembuat kebijakan, tingkatkan pemahaman tentang perubahan iklim, ciptakan kesadaran dalam masarakat untuk adapatasi.

Lebih baik bersiap untuk segala kemungkinan dari pada menanggung dampak perubahan iklim tanpa perlindungan apapun. Ingat kita tidak mewarisi bumi ini dari nenek moyang kita, kita meminjamnya untuk anak cucu kita. Ayo bertindak!,  Kalau enggak sekarang kapan lagi?. (*)

 

*) Pengamat Meteorologi dan Geofisika Stasiun Pemantau Atmosfer Global Lore Lindu Bariri Palu (BMKG Palu)

ipccOpiniperubahan iklim
Comments (0)
Add Comment