Penjual Janur Luar Kota Mulai Padati Pasar Tradisional di Kudus

MURIANEEWS.com, Kudus – Jelang tradisi ‘Kupatan’, puluhan penjual janur musiman mulai padati pasar-pasar tradisional yang ada di Kabupaten Kudus. Sebagian di antaranya berjualan di trotoar sisi utara Pasar Bitingan Kudus.

Harga yang ditawarkan pun beraneka ragam. Mulai dari Rp 3 ribu hingga Rp 8 ribu. Tergantung jumlah dan kualitas per janur yang dipilih. Janur yang telah dibentuk menjadi bentuk kupat ataupun lepet juga telah tersedia.

Sumadi, salah sartu penjual janur asal Desa Gemulung, Kecamatan Pecangaan Kebupaten Jepara mengatakan, pihaknya memang sengaja berjualan janur di Kota Kretek saat mendekati perayaan kupatan. Ia memulai berdagangnya sejak Jumat, (7/6/2019) lalu.

“Saya sudah mulai dari minggu kemarin,” ucapnya.

Hampir sama, Sumardi mematok harga dagangannya dari Rp 5 ribu sampai Rp 8 ribu per ikatnya, dengan isi 10 pcs. Sedang untuk tempat lepet ia jual senilai Rp 4 ribu hingga Rp 6 ribu per ikatnya. Harga tergantung kualitas janurnya.

“Harga tersebut standart, hampir sama dengan pedagang yang lain,” ujarnya.

Sumardi juga menyediakan tutus atau serutan bambu untuk pengikat lepet. Kelapa juga tersedia di sana. Tutus ia banderol dengan harga Rp seribu perikatnya. Sedang kelapa dijual dengan harga Rp 5 ribu – 10 ribu per biji.

“Saya hanya menjual janur saat musim kupatan saja,” terang pria asal Pecangaan tersebut.

Soal omzet, ia biasanya akan mendapatkan hasil lebih menjelang perayaan, tepatnya H-1 kupatan. Pasalnya ia bersama para pedagang lainnya akan menaikkan harga dagangannya. Per hari, ia bisa mengantongi antara Rp 50 ribu hingga Rp 200 ribu.

“Kira-kira dapat segitu,” lanjutnya.

Kenaikan harga janur bukan tanpa sebab. Tidak adanya stok dan karakteristik janur  yang mudah layu adalah salah satu penyebabnya. Disamping itu, permintaan juga mulai melambung pada hari-hari mendekati ‘kupatan’ nanti.

“Kami juga tidak bisa menyetok janur karena karakteristiknya, harga janur juga ditentukan dari ketersediaan di kebun,” tandasnya.

Sementara Dina Khanifa salah satu pembeli janur menyatakan, membeli janur dalam kondisi mendekati ‘kupatan’ memang harus pandai memilih dan menawar. Pasanya kualitas janur dirasa telah menurun.

“Harus pintar memilih ini,” ucpanya.

Walaupun mulai tak banyak yang berkualitas prima, Dina tetap akan membeli beberapa ikat janur untuk dibuat kupat dan lepet. Pasalnya, tradisi kupatan telah mendarah daging pada keluarganya yang merupakan asli wong Kudus.

“Lumayan dapat yang bagus, kami keluarga besar, jadi butuh banyak kupat dan lepet,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Janurkuduskupatan
Comments (0)
Add Comment