Tari Gusjigang, Gambaran Masyarakat Kudus dalam sebuah Gerakan

MURIANEWS.com, Kudus – Gusjigang atau Bagus, Ngaji dan Dagang yang merupakan ajaran luhur warisan Syekh Ja’far Shoddiq untuk masyarakat Kudus kini diimplementasikan ke dalam sebuah kesenian. Budaya yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Kudus tersebut disulap oleh sekumpulan anak-anak kreatif yang tergabung dalam Keluarga Kudus Yogyakarta dalam sebuah kreasi tarian.

Galuh Winda Olief (21), salah satu pencipta tari kreasi yang juga mahasiswa Jurusan Seni Tari di Institut Kesenian Yogjakarta memaknai Gusjigang adalah sebagai pedoman hidup masyarakat Kudus untuk hidup secara seimbang antara dunia maupun akhirat.

“Gus” diartikannya sebagai “bagus” dan memiliki makna jika ingin memiliki kebahagiaan dunia dan akhirat manusia harus memiliki akhlak atau perilaku yang baik. “Ji” yang diartikan ngaji adalah cara mendapatkan kebahagiaan akhirat. Sedangkan “Gang”, atau dagang diartikan sebagai jalan untuk mendapatkan kebahagiaan dunuawi.

“Tiga prisnsip itu kami sisipkan di setiap gerakan,” ujarnya pada MURIANEWS.com.

Terkait awal mula tercipta, Olief menjelaskan butuh pemahaman mendetail terhadap apa dan bagaima Gusjigang. Seluruh makna dalam prinsip hidup Wong Kudus tersebut dikupasnya satu per satu untuk di ekspresikan kedalaman sebuah gerakan.

“Satu bulan kami pelajari Gusjigang, pada tahun 2016 akhir tercipta,” ujarnya.

Dibantu Al Mizan, Olief membuat musik untuk tarian Gusjigang tersebut. Sedangkan untuk busananya, merupakan hasil karya Olief dalam mengimplementasikan sosok wanita yang anggun, religius namun tidak melupakan unsur klasik.

Untuk gerakan, bagus ditunjukkan dari gerakan bersolek. Dalam hal ini adalah memperbaiki akhlaknya. Sedangkan ngaji diimplementasikan pada gerakan wudhu yang mencerminkan ketaatan manusia kepada Tuhan.

Serta dagang yang digambarkan gerakan memikul maupun kipas-kipas uang yang merupakan bagian dari perjuangan masyarakat dalam mencari nafkah.

“Gambaran awal Gusjigang ada pada tarian tersebut,” terangnya.

Tarian tersebut ditampilkan pertama kalinya pada sebuah perhelatan seni akbar di Yogyakarta dengan animo masyarakat yang tinggi. Sedangkan di Kudus, Tarian Gusjugang untuk pertama kalinya ditampilkan pada HUT KKY-50 pada pertengahan tahun lalu.

“Setelah sebelumnya kami pertontonkan di Yogyakarta,” ujarnya.

Perubahan konsep tarian sempat terjadi seiring berkembangnya keadaan. Konsep tarian yang awalnya ditarikan oleh pria dan wanita, kini ditarikan seluruhnya oleh wanita. Faktor teknis seperti kurangnya SDM pria yang bisa menarikan tarian tersebut adalah penyebabnya.

“Tapi tidak mengurangi esensi dari Gusjigang tersebut,” lanjutnya.

Terciptanya tarian Gusjigang diharapkan memberi gambaran akan realisasi gusjigang dalam kehidupan sehari-hari. Keberadaan tarian ini juga diharapkan dapat menambah variasi budaya Indonesia dalam hal kesenian tari.

“Pemilihan tari dianggap efektif untuk sarana menyosialisasikan dan memaknai Gusjigang secara keseluruhan,” pungkasnya.

Editor: Ali Muntoha

Gusjigangkudustari gusjigang
Comments (0)
Add Comment