Opini

Anomali Suara Kotak Kosong di Pilkada Pati

Ali Muntoha
muntohafadhil@gmail.com

HASIL Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Pati sebenarnya sudah bisa diduga jauh-jauh hari. Calon tunggal yang merupakan petahana sudah diperkirakan akan tetap bertengger meski mendapat rongrongan dari kotak kosong. Namun ada yang perlu dicermati dari hasil Pilkada Pati ini, yakni suara dari kotak kosong.

Dalam coblosan yang digelar Rabu 15 Februari 2017 kemarin, suara dari kotak kosong memang tak bisa dipandang sebelah mata. Hasil penghitungan sementara yang dilakukan KPU perolehan suara kotak kosong mencapai 25 persen. Sebuah angka yang tak bisa dipandang enteng untuk ukuran pilkada.

Dari suara sah sebanyak 674.481, kotak kosong berhasil meraih 171.060 suara atau 25.33 persen (penghitungan data masuk 97.17 persen). Raihan suara kotak kosong ini memang cukup sebanding dengan gerakan yang dilakukan relawan kotak kosong yang begitu massif.

Hanya saja yang membuat banyak orang tercengang adalah sebaran suara kotak kosong. Memang hampir semua kecamatan terdapat suara kotak kosong, namun wilayah Pati selatan yang digadang-gadang akan menjadi lumbung suara kotak kosong justru terjun bebas.

Kampanye kotak kosong selama ini dikait-eratkan dengan kampanya penolakan pabrik semen di wilayah Pegunungan Kendeng. Wilayah Pati selatan yang menjadi daerah terdampak (Tambakromo, Kayen, Sukolilo) disiapkan menjadi wilayah perlawanan paling kuat untuk pasangan calon tunggal Haryanto-Saiful Arifin.

Namun apa mau dikataka, prediksi tak sesuai dengan hasil. Hasil penghitungan suara di Pati bagian selatan suara kotak kosong keok, tak ada satupun kecamatan yang memenangkan kotak kosong. Meskipun ada beberapa desa di mana kotak kosong menang telak.

Perlawanan yang cukup berarti memang terlihat di Kecamatan Tambakromo, di mana suara antara Haryanto-Arifin cukup tipis. Di kecamatan ini, suara kotak kosong tercatat sebanyak 10.160 dari 120 TPS, sementara suara calon tunggal unggul sedikit yakni 15.358. Sementara di kecamatan lain di Pati selatan seperti Sukolilo, Gabus, Kayen, Winong, perolehan suara kotak kosong tak bisa diharapkan.

Justru sumbangan suara untuk kotak kosong dari wilayah Pati bagian utara lebih terlihat dominan dibandingkan wilayah selatan. Daerah-daerah seperti Margoyoso, Tayu, Trangkil dan Wedarijaksa bahkan bisa menyumbang suara kotak kosong yang sangat berarti. Padahal daerah ini tak berkaitan langsung dengan kampanye tolak pabrik semen.

Margoyoso mampu menyumbang 16.340 suara, Tayu 19.664 suara, Wedarijaksa 11.644 suara dan Trangkil 12.317. Dan dari 21 kecamatan di Kabupaten Pati, Kecamatan Pati (kota) lah yang paling banyak memberikan sumbangan suara untuk kotak kosong yakni sebanyak 23.179 suara.

Apakah ini ada kaitanya dengan wilayah asal Wakil Bupati Pati Budiyono yang berada di Pati utara?. Seperti diketahui banyak pihak, hubungan antara Haryanto dan Budiyono sudah sangat buruk, saat keduanya memutuskan untuk saling maju sebagai calon bupati.

Budiyono yang tak mendapatkan kendaraan (partai politik) untuk mengusungnya, belakangan terakhir sangat mesra dengan relawan kotak kosong. Memang sangat mungkin pengaruh Budiyono di wilayah Pati utara yang begitu besar, sehingga mampu menggerakkan warga untuk memilih kotak kosong.

Fakta ini kemudian membuat banyak orang berpikir, apakah kampanye tolak pabrik semen tak begitu efektif untuk menggerakkan suara kotak kosong? Karena nyatanya pemilih di wilayah yang terdampak rencana pembangunan pabrik semen juga tak banyak yang memilih kotak kosong.

Apakah karena sifat pragmatisme warga Pati kidul yang masih begitu kuat hingga mengalahkan idealisme untuk memperjuangkan penolakan pabrik semen? Banyak pihak yang menuding idealisme warga Pati selatan mudah goyah dengan serangan fajar yang dilakukan calon (meski ini harus dibuktikan lebih lanjut).

Anomali suara kotak kosong ini sedikit banyak bisa memberi pelajaran bahwa tidak ada yang pasti dalam kontestasi politik. Lumbung suara bisa saja menjadi bocor, jika memang tak ada upaya untuk merawat dan menjaga suara itu agar tetap aman.

Terlepas dari itu semua, pelaksanaan Pilkada Pati telah berjalan dengan lancar tanpa ada gangguan anarkisme yang berarti. Pesta demokrasi untuk warga Pesantenan ini telah menghasilkan calon pemimpin yang akan membawa nasib Pati lima tahun ke depan. Apapun hasilnya, baiknya semua pihak menghormati.

Selain itu, dengan banyaknya suara kotak kosong dalam Pilkada Pati harus menjadi renungan dan cambuk bagi Haryanto-Arifin untuk merangkul banyak pihak. Karena diakui atau tidak, suara kotak kosong yang begitu banyaknya bisa menjadi indicator tingkat kesukaan warga pada Haryanto-Arifin yang masih cukup rendah.

Setelah ditetapkan KPU nantinya, pasangan ini harus segera melakukan langkah-langkah strategis, tak hanya sekadar langkah untuk pembangunan tapi upaya merangkul semua pihak, agar tercipta kondusivitas di Pati. (*)

Editorialkotak kosongPilkada Pati