Mau Jadi 1 di Antara 10 Ribu Orang?

Siti Merie
merqi194@yahoo.com

SATU hari, sebuah foto mampir di akun WhatsApp saya. Seorang anak kecil, perempuan, memegang buku dan melihatnya, sementara di depannya deretan buku lain ada di rak-rak yang tingginya jelas melebihi gadis kecil cantik yang sedang memegang buku tersebut.

Iseng-iseng saya upload foto tersebut dengan status yang menjelaskan bahwa ketika saya nantinya memiliki anak, maka saya akan ajak anak saya ke toko buku setiap bulannya. Di sana mereka boleh memilih buku yang diinginkan, untuk dibaca kemudian. Karena saya ingin menjadikan toko buku sebagai tempat ”bermain” yang akan sangat menyenangkan bagi mereka. Meski kadang tidak akan ramah di kantong, namun semua bisa diperjuangkan.

Namun, ada syarat bagi anak-anak saya sebelum mereka bisa sampai ke toko buku. Yakni menghabiskan seluruh koleksi buku saya, yang menumpuk di mana-mana. Bahkan berserakan di mana-mana. Ada yang masih plastikan juga malah. Meski kadang sudah dibagi-bagi, tapi karena hasrat membeli lebih banyak dari membaca, maka yang terjadi adalah penumpukan ”harta karun” yang semakin lama semakin berjibun jumlahnya.

Nah, kalau anak-anak saya sudah menghabiskan seluruh bacaan koleksi milik saya, barulah mereka boleh ke toko buku. Meski ini juga strategi untuk menjaga agar kantong tetap rapi dan aman. Sehingga mereka akan lama sekali untuk pergi ke toko bukunya. Dan kantong orang tuanya akan aman sementara.

Dan kemudian, ada satu komentar yang masuk ke status saya itu. Komentarnya datang dari rekan saya yang bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Jepara. Dia bilang, kenapa anak-anak tidak diajak juga ke perpustakaan. Biar mereka juga mengenal perpustakaan dan mencintainya. Bahwa perpustakaan juga bisa menjadi harta karun yang luar biasa, termasuk tempat bermain yang menyenangkan sesuai konsep saya tadi.

Saat mengetahui saran itu, saya langsung mengatakan setuju sekali. Bahkan, saya tegaskan bahwa anak-anak saya baru bisa ke toko buku, ketika mereka sudah menghabiskan bacaan koleksi buku saya, ditambah koleksi perpustakaan yang ada. Jadilah, mereka akan sangat lama sekali untuk bisa datang ke toko buku. Mungkin jika rencana ini diteruskan, seumur hidup mereka akan datang ke perpustakaan, dan membaca di sana. Tanpa sempat ke toko buku. Sambil senyam senyum sendiri, saya berpikir ini hanya strategi orang tuanya supaya kantong aman sejahtera. Kata orang Jepara, ndakik sitik gak popo, ndak papa.

Namun lebih dari itu, ada tujuan mulia bagaimana menumbuhkan minat baca anak-anak kita semua, untuk terus tumbuh dalam diri mereka. Budaya membaca buku, begitu terpinggirkan saat ini. Karena yang banyak dibuka adalah aplikasi-aplikasi media sosial yang marak muncul belakangan ini. Gambar visul sudah begitu mendominasi anak-anak itu, menggusur keinginan untuk membuka lembar demi lembar karya penulis yang ada.

Mungkin banyak yang akan bilang bahwa sekarang lebih enak kalau membaca lewat buku elektronik atau e-book. Tinggal buka gadget, kemudian pilih, download, dan seterusnya tinggal tangan aktif scroll ke atas dan bawah. Baik gagdet yang layarnya lebar sekali, ataupun smartphone yang memang banyak dimiliki. Inilah yang membuat buku menjadi sesuatu yang kurang diperhatikan. Meski sangat menyenangkan jika bisa membuka lembar demi lembar buku dan membaca deretan tulisan yang kadang berwarna-warni isinya itu.

Kenyataan bahwa membaca buku menjadi sesuatu yang sekarang terpinggirkan, bisa dilihat dari studi ”Most Littered Nation In the World” yang dilakukan Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu. Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60, dari 61 negara di dunia soal minat membaca. Indonesia persis berada di bawah Thailand yang berada di urutan 59, dan di atas Bostwana yang berada di urutan terakhir, yakni 61.

Bahkan, dari berbagai penelitian yang ada, hanya ada satu di antara 10 ribu orang di Indonesia yang memiliki minat baca di negara ini. Bayangkan saja betapa mengenaskannya kalau sudah seperti itu. Masak dari 10 ribu orang di Indonesia, hanya ada satu yang kemudian memiliki minat baca. Atau jangan-jangan yang satu orang itu pun, akan larut dan ikut dengan mereka yang 10 ribu itu. Alias ikut-ikutan malas membaca.

Tapi rupanya masih ada secercah harapan bahwa anak-anak Indonesia itu suka membaca, bahkan sangat suka ke perpustakaan. Contohnya adalah anak-anak di Madrasah Aliyah (MA) Sunniyyah Selo, Kabupaten Grobogan. Dari berita yang dimuat MuriaNewsCom, anak-anak di sekolah itu bahkan menciptakan bacaannya sendiri. Bukankah itu keren sekali.

Mereka mengarang cerita pendek (cerpen) secara berkelompok, untuk kemudian dijadikan bacaan di perpustakaan sekolah tersebut. Karena kegiatan ini sudah berlangsung sejak 2005 lalu, maka cerpen-cerpen yang ada tentu saja sudah banyak sekali jumlahnya. Sesuatu yang luar biasa. Bagaimana anak-anak di sekolah ini, sudah memberikan ”warisan” secara turun temurun kepada adik-adik kelasnya. Demikian juga mereka yang masuk ke sekolah ini. Ini adalah sebuah manfaat yang hanya akan bisa dinikmati melalui rasa atau hati. Bukan saat ini, tetapi nanti.

Namun, salut teramat sangat saya sampaikan kepada guru-guru di MA Sunniyyah Selo, Kabupaten Grobogan. Mereka mampu menumbuhkan ”passion” atau hasrat yang luar biasa bagi anak-anak ini, untuk terus berkarya. Sehingga anak-anak ini bisa termotivasi menciptakan cerpen-cerpen yang saya yakin indah dan bagus, meski saya belum sempat membacanya. Jika tidak ada peran guru dalam kegiatan ini, saya yakin anak-anak itu tidak akan mengenal bagaimana menulis itu adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Di dalam tulisan, semua bisa tercurahkan. Itu sebabnya, guru-guru di sekolah ini, patut diacungi jempol. Karena menumbuhkan hasrat untuk menulis, yang akan diikuti dengan membaca, tentu saja bukan pekerjaan yang mudah. Perlu perjuangan yang ekstra, pengawalan yang terus menerus, sampai akhirnya semua akan menjadi biasa. Sebagaimana kata pepatah ”ala bisa karena biasa”.

Ada begitu banyak ilmu di dalam sebuah buku. Karena itu, ”belajar membaca bagaikan menyalakan api, setiap suku kata yang di eja akan menjadi percik yang menerangi (Victor Hugo). Selamat membaca. Jangan lupa, bacakan sebuah cerita untuk anak-anak dan orang-orang yang Anda sayangi. (*)

Editorialma sunniyah selo grobogan