Jangan Ada Tarif Becak dan Ojek Tengkik Peziarah Makam Sunan Kudus

Akrom Hazami
red_abc_cba@yahoo.com

PENGAYUH becak dan pengojek yang biasa mangkal di terminal wisata Bakalan Krapyak serta sekitar Taman Menara Makam Sunan Kudus, meluapkan kekesalannya, awal pekan kemarin. Yakni atas kebijakan pemkab yang bikin mereka sakit hati.

Mereka melakukan aksi di gedung DPRD dan di pendapa kabupaten setempat. Di dua lokasi itu, aspirasi mereka curahkan. Aksi mereka berkaitan dengan rencana pemkab yang merencanakan pengadaan mobil wisata, senilai Rp3,7 miliar. Nantinya mobil yang mengecawakan mereka itu, akan jadi moda transportasi, yang melayani para peziarah Makam Sunan Kudus.

Sekadar informasi, selama ini bus wisata dengan tujuan Menara dan Makam Sunan Kudus wajib berhenti di terminal wisata Bakalan Krapyak. Lokasi itu berjarak kurang lebih 2,5 kilometer dari objek tujuan. Dari terminal wisata, para peziarah biasanya naik ojek atau becak, menuju Menara dan Makam Sunan Kudus.

Kembali pada soal kebijakan pemkab itu, pengayuh becak dan ojek mengaggap itu membatasi, atau bahkan berpotensi menggusur keberadaan mereka. Karenanya aksi gundah gulana itu mereka lancarakan.

Paguyuban Ojek Terminal Wisata Bakalan Krapyak pada aksi menyatakan siap dibina oleh pemkab. Mereka dengan lantang menolak jika harus dibinasakan. Mengingat itu merupakan urusan perut yang setiap harinya mereka perjuangkan.

Sementara pengayuh becak terang-terangan menolak kebijakan pemkab. Mereka malah memberikan solusi jika uang Rp 3,7 miliar lebih baik untuk pembinaan pengayuh becak dan tukang ojek.

Nilainya yang besar, tapi kegunaannya justru mengancam ojek dan becak. Pengayuh becak dan ojek tak setuju. Mendengar seruan pengojek dan pengayuh becak yang seolah akan ada pembinasaan, Ketua DPRD Kudus, Masan, berusaha menerangkan duduk perkara. Masan menuturkan bahwa tidak mungkin jika kebijakan diambil untuk membinasakan rakyat.

Termasuk untuk penganggaran pengadaan mobil wisata sebesar itu sudah melalui prosedur yang semestinya. Proses penganggaran tak bisa dibatalkan, tapi yang bisa dilakukan adalah evaluasi. Jadi pengadaan mobil wisata masih mungkin dibatalkan.

Upaya keras mereka rupanya mendapat angin segar dari Bupati Kudus, Musthofa. Dikatakannya, setelah melalui rembugan, dihasilkan beberapa kesepakatan. Di antaranya, pengayuh becak dan pengojek tetap bisa beroperasi.

Tapi dengan syarat, mereka teratur dan tertib. Bupati membuka latar belakang rencana digulirkan, yakitu sebenarnya pengadaan mobil wisata itu merupakan solusi atas kesemrawutan becak dan ojek. Yang buntutnya adalah kemacetan kompleks Menara dan Jember.

Tidak berhenti di situ, aksi tarif yang menengkik atau menaikkan tarif sesukanya untuk peziarah, juga kerap didengar bupati. Karenanya, bupati mengizinkan mereka tetap beroperasi. Dengan catatan tetap berlalu lintas dengan teratur, memberi kepastian tarif serta memberikan pelayanan yang baik kepada peziarah.

Kendati demikian, tim kajian yang melibatkan Dishubkominfo dan Satlantas Polres Kudus, akan mengevaluasi keberadaan para pengayuh becak dan pengojek terlebih dahulu. Dalam hal ini terkait dengan kepadatan arus lalu lintas di sekitar kawasan Menara dan juga Jember.

Di sepanjang rute dari terminal Bakalan Krapyak menuju Menara, memang arus lalu lintas super padat. Tidak ada pengaturan yang jelas. Semua saling ingin mendahului. Hal itu kerap membuat kesal peziarah dan pengguna jalan.

Bahkan di perempatan Jember, aksi saling adu cepat antarbecak, maupun pengojek, terlihat jelas. Semrawut dan bikin miris. Harapannya, dengan adanya rencana pemkab yang melarang becak dan ojek operasi, bisa membuat pihak terkait menata diri.

Bupati telah menyatakan, ojek dan becak boleh beroperasi. Dengan syarat harus tertib dan teratur. Semoga itu ditaati bersama. Polisi, dan pemkab, silakan pantau ke lapangan setiap saat. Tindak yang tidak benar. Biar potensi wisata religi Kudus tetap terjaga citranya. (*)

Editorial