Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengunjungi Benteng Vredeburg, Saksi Bisu Peristiwa Bersejarah di Yogyakarta

Mengunjungi Benteng Vredeburg Saksi Bisu Peristiwa Bersejarah di Yogyakarta
Foto: Benteng Vredeburg di Yogyakarta (jogjakota.go.id)

Murianews, Yogyakarta – Ada banyak tempat dan bangunan bersejarah yang terdapat di Yogyakarta dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Salah satu bangunan bersejarah yang cukup populer adalah Benteng Vredeburg.

Saat jalan-jalan di pusat kota Jogja khususnya di Kawasan Malioboro, sempatkan mampir ke Benteng Vredeburg. Bangunan ini merupakan salah satu saksi bisu peristiwa bersejarah yang terjadi di Jogja.

Melansir dari laman jogjakota.go.id, Senin (20/3/2023), berdirinya Benteng Vredeburg di Yogyakarta tidak lepas dari lahirnya Kasultanan Yogyakarta. Keraton Kasultanan Yogyakarta pertama dibangun pada tanggal 9 Oktober 1755.

Baca juga: Menyusuri Benteng Pendem di Cilacap, Bangunan Penahan Serangan dari Arah Laut

Setelah keraton mulai ditempati kemudian dibangun bangunan pendukung lainnya seperti Pasar Gedhe, masjid, alun-alun dan bangunan pelengkap lainnya. Kemajuan ekraton semakin pesat sehingga hal ini membawa kekhawatiran bagi pihak Belanda.

Oleh karena itu, pihak Belanda  mengusulkan kepada sultan agar diizinkan membangun sebuah benteng di dekat keraton. Pembangunan benteng tersebut dengan dalih agar Beanda dapat menjaga keamanan katon dan sekitarnya.

Akan tetapi dibalik dalih tersebut, Belanda mempunyai maksud tersendiri. Yaitu untuk memudahkan Belanda dalam mengontrol segala perkembangan yang terjadi di dalam keraton.

Letak benteng yang hanya satu jarak tembak meriam dari kraton dan lokasinya yang menghadap ke jalan utama menuju kraton menjadi indikasi bahwa fungsi benteng dapat dimanfaatkan sebagai benteng strategi, intimidasi, penyerangan dan blokade.

Dengan kata lain bahwa berdirinya benteng tersebut dimaksudkan untuk berjaga-jaga apabila sewaktu-waktu sultan berbalik menyerang Belanda dan berubah memusuhi Belanda.

Pada tahun 1760 mulai dibangun sebuah bangunan yang digunakan sebagai benteng kompeni. Bagunan benteng ini masih sangat sederhana, dan pada tahun 1767 oleh gubernur pantai Utara Jawa di Semarang meminta kepada sultan agar benteng tersebut dibangun lebih kuat untuk menjamin keamanan orang-orang Belanda.

Berkat izin Sri Sultan Hamengku Buwono I, pembangunan benteng selesai pada tahun 1787 dan dibawah pimpinan Gubernur Johannes Sioeberg diresmikan menjadi benteng kompeni dengan nama Rustenburgh yaang artinya ”tempat istirahat”.

Benteng Rustenburgh mengalami perkembangan yang cukup pesat, dan pada tahun 1867 di Yogyakarta mengalami gempa bumi sehingga beneng memerlukan perbaikan. Setelah pemugaran selesai oleh Daendels nama benteng Rustenburgh diubah menjadi benteng Vredeburg yang artinya ”perdamaian”.

Seiring dengan berjalannya waktu, Benteng Vredeburg merekam peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kota Yogyakata. Pada masa penguasaan Inggris 1811-1816, benteng ini dikuasai oleh pemerintah Inggris di bawah penguasaan John Crawfurd atas perintah Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles.

Pada masa penguasaan Inggris, terjadi peristiwa penting di tempat ini yaitu terjadinya penyerangan serdadu Inggris dan kekuatan-kekuatan pribumi ke Keraton Yogyakarta pada tanggal 18 sampai 20 Juni 1812 yang dikenal dengan peristiwa Geger Sepoy.

Pada 5 Maret 1942 ketika Jepang menguasai Kota Yogyakarta, benteng ini diambil alih oleh tentara Jepang. Beberapa bangunan di Benteng Vredeburg digunakan sebagai tempat tawanan orang Belanda dan orang Indonesia yang melawan Jepang. Benteng Vredeburg digunakan pula sebagai markas Kempetei dan juga sebagai gudang senjata serta amunisi tentara Jepang.

Pasca Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, Benteng Vredeburg diambialih oleh instansi militer Republik Indonesia. Namun, ketika terjadi peristiwa Agresi Militer Belanda II pada 19 Desember 1948, benteng ini dikuasai oleh pasukan Belanda pada tahun 1948 sampai 1949.

Belanda menjadikan benteng ini untuk markas tentara IV G (Informatie Voor Geheimen), yaitu Dinas Rahasia Belanda. Disamping itu, benteng ini juga digunakan sebagai markas batalyon pasukan dan penyimpanan perbekalan berbagai peralatan tempur.

Oleh karena itu, pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, pasukan TNI menjadikan benteng ini sebagai salah satu sasaran serangan untuk dapat menaklukan pasukan Belanda. Pada 29 Juni 1949, setelah mundurnya pasukan Belanda dari Yoyakarta, maka pengelolaan Benteng Vredeburg dipegang oleh APRI (Angkatan Perang Republik Indonesia).

Pada tahun 1992 sampai sekarang, berdasarkam SK Mendikbud RI Prof. Dr. Fuad Hasan No. 0475/0/1992 tanggal 23 November 1992, secara resmi Museum Benteng Vredeburg menjadi Museum Khusus Perjuangan Nasional dengan nama Museum Benteng Vredeburg Yoyakarta yang menempati tanah seluas 46.574 m persegi.

Kemudian tanggal 5 September 1997, dalam rangka peningkatan fungsionalisasi museum, Museum Benteng Vredeburg Yogyakarta mendapat limpahan untuk mengelola museum Perjuangan Yogyakarta di Brontokusuman Yogyakarta berdasarkan SK Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor: KM. 48/OT. 001/MKP/2003 tanggal 5 Desember 2003.

 

Ruangan komen telah ditutup.