Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Jangan Dipaksakan! Ini Waktu yang Tepat buar Anak Belajar Calistung

Jangan Dipaksakan Ini Waktu yang Tepat buar Anak Belajar Calistung
Foto: Ilustrasi mendampingi anak belajar (Anil sharma dari Pixabay)

Murianews, Kudus – Semua orang tua pasti menginginkan agar anak bisa pandai dalam berbagai hal. Oleh sebab itu, semenjak kecil anak sudah mulai diberikan berbagai ilmu untuk bekal mereka di kemudian hari.

Namun perlu diketahui, dalam mendidik anak ini ada tahapannya. Artinya, anak jangan dipaksa belajar suatu hal ketika usianya belum mencukupi.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada banyak orang tua yang memaksakan anaknya agar belajar membaca, menulis dan berhitung atau lazim disebut calistung. Padahal, kondisi anaknya belum memungkinkan sehingga kesulitan untuk menangkap pelajaran.

Baca juga: Berapakah Usia Ideal Anak Masuk SD? Ini Jawabannya

Sebagian orang tua ada yang jengkel ketika anaknya terlihat kurang cekatan saat diajari calistung. Padahal, berbagai metode sudah dicoba untuk memberikan pelajaran calistung ini.

Melansir dari Hellosehat, Rabu (1/2/2023), merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki guna membantu proses perkembangan anak. Saat di sekolah dasar dan menengah, tiga kemampuan ini akan selalu digunakan selama proses belajarnya. Bila kemampuan calistungnya baik, anak tentu akan dapat melewati proses belajarnya di sekolah dengan baik.

Bahkan, bukan cuma di sekolah, kemampuan calistung juga akan bermanfaat di mana pun dan kapan pun selama kehidupannya. Inilah mengapa peran orangtua sangat penting untuk mendorong kemampuan membaca, menulis, dan berhitung ini.

Meski begitu, Anda pun perlu tahu kapan waktu yang tepat untuk mengajarkan calistung kepada anak. Sebab, mengajarkan calistung terlalu dini bisa memberikan efek yang merugikan untuk anak Anda.

Kapan anak diajarkan calistung?

Umumnya, kemampuan menulis, membaca, dan berhitung sudah mulai dikuasai oleh anak pada usia-usia berikut.

1. Menulis beberapa huruf, angka, atau kata pada usia 5 tahun, sedangkan tulisan dengan urutan kata yang logis umumnya saat berusia 6 tahun.

2. Membaca kata-kata sederhana secara terpisah dan kata yang ada di dalam suatu kalimat pada usia 5 tahun. Pada usia 6 tahun, anak bisa membaca cerita yang sudah dikenal serta saat berusia 7 tahun dapat membaca buku secara mandiri.

3. Anak dapat melakukan penjumlahan dan pengurangan sederhana saat kelas 1 dan 2 SD atau ketika berusia 6-7 tahun.

Berdasarkan pertimbangan di atas, anak mungkin dapat mulai diajarkan calistung pada usia 5-7 tahun dengan target seperti di atas.

Meski begitu, perlu Anda pahami, kemampuan serta kecepatan belajar setiap anak berbeda. Beberapa anak mungkin sudah bisa calistung lebih cepat, sedangkan yang lainnya tidak. Jadi, jika anak Anda sedikit lebih telat memulai belajar atau memahami calistung dari teman-teman seusianya, Anda tidak perlu khawatir.

Kesulitan dalam menulis, membaca, dan berhitung bukan berarti anak Anda tidak pintar. Beberapa anak mungkin hanya membutuhkan dukungan lebih banyak agar bisa berkembang. Namun, jika ada kekhawatiran tertentu dalam pencapaian belajar calistung ini, Anda bisa berkonsultasi kepada dokter anak, guru, atau ahli profesional lainnya untuk mencari tahu masalahnya dan penanganan yang tepat.

Apa saja tanda anak siap belajar calistung?

Perlu Anda pahami pula, belajar membaca, menulis, dan berhitung bukanlah suatu hal yang instan. Semuanya perlu dilakukan secara berkelanjutan serta bertahap. Misalnya, proses belajar membaca anak akan melibatkan keterampilan bahasa yang mulai diperkenalkan sejak ia bayi.

Sementara menulis memerlukan kemampuan motorik halus yang juga perlu diasah sejak sebelum berusia 1 tahun. Adapun kemampuan berhitung (matematika) perlu dimulai dengan pengenalan bentuk, ukuran, hingga pemahaman soal sebab-akibat yang bisa diasah sejak masih bayi dan balita.

Ini artinya, selain patokan usia di atas, menentukan waktu yang tepat untuk anak belajar calistung juga tergantung dari keterampilan-keterampilan yang dicapai sebelumnya.

Berikut adalah beberapa tanda anak siap belajar membaca, menulis, dan berhitung.

1. Dapat mengenali huruf serta memahami konsep fonetik, yaitu bunyi dalam kata-kata yang diucapkan, termasuk huruf awal dari kata tersebut. Misalnya, kata “mata” dimulai dengan huruf “M”.

2. Dapat memahami bahwa buku dibaca mulai dari kiri ke kanan serta atas ke bawah.

3. Dapat mengulang cerita yang dibacakan untuknya atau dapat bercerita tentang hal yang dialaminya.

4. Mulai tertarik untuk membaca, menulis, serta belajar dengan angka.

5. Anak sudah dapat memegang pensil dengan benar dan menuliskan bentuk huruf secara akurat.

6. Dapat melabeli gambar yang dibuatnya dengan huruf atau beberapa kata.

7. Mulai menulis kata-kata sederhana.

8. Anak dapat menyebutkan angka 1-10 atau bahkan lebih dengan urutan yang benar.

9. Dapat menambahkan angka dengan menghitung jari.

10. Dapat memahami mana angka yang lebih besar dan kecil atau lebih banyak dan sedikit.

Jika kemampuan-kemampuan di atas belum terpenuhi atau anak belum siap, anak akan kesulitan dalam proses belajarnya. Selain itu, melansir Child Mind Institute, anak-anak juga bisa merasa kesal, tidak akan menyukai pembelajarannya, atau bahkan mengembangkan rasa cemas yang berlebihan saat mempelajari hal-hal baru.

Tips membantu anak belajar calistung

Peran orangtua sangat penting dalam proses belajar dan tumbuh kembang anak. Ini pun belaku saat anak akan dan sedang belajar membaca, menulis, dan berhitung. Adapun memberikan dukungan yang tepat untuk anak dapat membantu mencapai tonggak tumbuh kembang sesuai usianya.

Lantas, apa saja yang harus dilakukan orangtua untuk mendukung proses belajar calistung pada anak? Berikut tipsnya.

1. Jadikan membaca sebagai suatu kebiasaan.

2. Membaca buku bersama anak dan saling berbagi apa yang dibaca atau ditemuinya dalam buku.

3. Ajak anak untuk memainkan permainan bersama yang terkait dengan kemampuan membaca, menulis, dan berhitung. Misalnya permainan menggunakan kartu, membangun dengan balok, atau sekadar membaca tulisan yang ditemukan di sepanjang jalan saat bepergian.

4. Jadikan diri Anda sebagai panutan. Misal dengan rajin membaca buku dan biarkan anak melihat bagaimana Anda menulis.

5. Sesekali mengajari anak menulis dengan cara yang menyenangkan. Misalnya, menulis kata menggunakan kuas dan cat air atau dengan tongkat di area berpasir, seperti pantai. Anda juga bisa mengajak anak untuk memberi label pada benda-benda tertentu yang ada di rumah, misalnya membuat tulisan nama anak di depan pintu kamarnya.

6. Ajarkan anak berhitung dengan cara yang tidak bosan, seperti melakukan penjumlahan menggunakan benda yang ada di sekitarnya. Misalnya dua sendok ditambah dua sendok sama dengan empat sendok.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: hellosehat.com

Ruangan komen telah ditutup.