Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Dinkes Tetapkan Boyolali KLB Campak, Segini Temuannya

Ilustrasi penyakit Campak (Freepik)

Murianews, Boyolali — Kabupaten Boyolali ditetapkan sebagai kabupaten dengan Kejadian Luar Biasa (KLB) Campak. Hal ini setelah Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali menemukan puluhan pasien yang dinyatakan suspek campak.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Boyolali Puji Astuti menyebutkan, total pasien suspek campak mencapai 20 orang. Untuk penyebarannya, hampir terjadi di semua kecamatan.

”Hingga 19 Januari kemarin, terdapat 20 suspek campak dan semuanya masih menunggu hasil uji laboratorium,” katanya seperti dikutip Solopos.com, Selasa (24/1/2023).

Puji mengungkapkan berdasarkan tempat di Puskesmas Tamansari menemukan satu suspek domisili Klaten. Lalu di Puskesmas Musuk, Ampel, Boyolali I, dan Boyolali II terdapat satu penemuan suspek.

Kemudian di Puskesmas Nogosari terdapat dua penemuan suspek campak, puskesmas Simo ada lima suspek campak, Puskesmas Wonosegoro terdapat satu suspek.

Baca: Kemenkes Tetapkan KLB Penyakit Campak

”Sementara di Puskesmas Andong terdapat dua penemuan dengan salah satu suspek dari Klego. Lalu, RS PKU ‘Aisyiyah ada tiga suspek campak. RSUD Pandan Arang terdapat satu suspek,” ungkapnya.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Sukoharjo juga melaporkan satu suspek penyakit campak beralamat Banyudono, Boyolali. Kemudian, berdasarkan jenis kelamin, laki-laki suspek campak ada tujuh orang dan perempuan 13 orang.

”Kalau berdasarkan kategori umur di bawah satu tahun ada tiga orang, usia 1-6 ada 10 orang, 7-12 tahun dua orang, 19-30 tahun ada tiga orang. Usia 31-45 tahun ada dua orang,” terangnya..

Puji mengungkapkan begitu ada suspek penyakit campak, Dinkes Boyolali langsung melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) seperti pengambilan sampel suspek dan perawatan bagi suspek campak.

Ia juga mengungkapkan pasien campak dapat sembuh. Ciri campak hampir sama dengan penyakit gabagen, yaitu ruam merah di sekujur tubuh serta ada juga gatal dan panas.

Menurut Puji, gejala campak dan gabagen hampir mirip sehingga perlu dilakukan pemeriksaan untuk memastikannya campak atau gabagen. ”Saat ini kami mulai ada program Kejar Vaksin, semua vaksin. Ini mulai berproses,” ujarnya.

Puji mengungkapkan penyakit campak disebabkan virus Paramyxovirus yang dapat ditularkan melalui percikan air liur penderita. Sehingga, ia meminta masyarakat untuk melaksanakan protokol kesehatan dalam mencegah penyebaran penyakit campak.

”Selain prokes, jangan lupa untuk meningkatkan daya tahan tubuh karena imunitas yang melemah dapat membuat orang mudah terkena penyakit,” imbuhnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.