Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Majukan Desa, BUMDes Wadas Studi Banding ke 4 Desa di Yogyakarta

BUMDes Sido Makmur, Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo saat melakukan studi banding di Yogyakarta. (Istimewa)

Murianews, Purworejo – Sebanyak 14 pengurus Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sido Makmur, Desa Wadas, Kecamatan Bener, Kabupaten Purworejo melakukan studi banding ke empat desa di Yogyakarta.

Studi banding yang dilakukan selama tiga hari mulai 21 – 23 Januari 2023 itu ditujukan untuk peningkatan kesejahteraan warga terdampak akibat proyek penambangan batu andesit yang akan digunakan sebagai fondasi Bendungan Bener.

Direktur Bumdes Wadas, Fuad Rofik mengatakan belasan pengurus tersbeut belajar pengelolaan dan pengembangan ke Umbul Nglanggeran di Patuk Gunung Kidul, Tebing Breksi di Prambanan, Kebun Buah Mangunan dan BUMDes Panggung Lestari di Bantul.

Baca: Sempat Menolak, Puluhan Warga Wadas Legowo 34 Bidang Tanah Diukur BPN

”Kami menyongsong kemajuan desa kami. Salah satunya dengan mengembangkan BUMDes,” katanya dalam siaran pers yang diterima Murianews, Selasa (24/1/2023).

Menurutnya, BUMDes adalah wadah usaha bagi masyarakat desa, yang kepemilikan mayoritas warga diwakili oleh pemerintahan desa. Oleh karena itu, upaya peningkatan kesejahteraan warga terdampak akibat proyek penambangan batu andesit yang akan digunakan sebagai fondasi Bendungan Bener harus dikawal kelembagaan ekonomi desa, dalam hal ini BUMDes Sido Makmur.

Selain menjalankan fungsi usaha, BUMDes juga menjalankan fungsi sosial dan politiknya ketika berhadapan dengan proyek berskala besar. Ia mengungkapkan, saat berdialog dan negosiasi dengan Gubenur Jateng Ganjar Pranowo serta dari pihak BBWS Serayu-Opak, pihaknya juga minta agar BUMDes dilibatkan dalam pelaksanaan sekaligus pengawasan.

”Melalui BUMDes kami bisa terlibat dalam pengawasan mengenai penambangan batu andesit yang awalnya kami tolak,” tegasnya.

Ke depan, pihaknya akan merancang master plan agrowisata pasca penambangan. Selain ada green belt, nantinya juga akan ada embung di puncak bekas tambang. Ia membayangkan, master plan tersebut adalah wisata agro di mana di embung di puncak untuk mengairi pertanian di sekitar lokasi.

Diharapkannya, keseriusan BUMDes tersebut berbanding lurus dengan perhatian sejumlah pihak, terutama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.

Baca: Pengukuran Lahan Kuweri di Desa Wadas Masih 29 Hektare, Ini Kata BPN

”Ini membuktikan kami serius. Pak Gubernur juga harus serius dalam hal memberikan perhatian niat kami,” jelasnya.

Kepala Desa Wadas, Fahri Setianto menambahkan, bahwa proyek strategis nasional akan membawa perubahan besar bagi desanya. Menurut dia, desa yang dipimpinnya akan mengalami perubahan besar, baik secara lanskap, ekonomi, dan sosial budayanya akibat proyek tersebut. Oleh karena itu, pihaknya harus bisa meminimalisir dampak negatif dan memperbesar dampak positif.

”Dampak positifnya dalam hal ini adalah harus bisa jadi alat kesejahteraan warga Desa Wadas. Untuk itu, kami butuh belajar dari wilayah lain yang sudah sukses,” ucap dia.

Upaya studi banding tersebut, ungkapnya, tidak lepas dari dorongan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo. Gubenur, kata dia, juga berkomitmen meningkatkan kapasitas pengurus dan kelembagaan BUMDes. Selain itu, ucap Fahri, tentunya juga bantuan modal.

 

Reporter: Supriyadi
Editor: Supriyadi

Ruangan komen telah ditutup.