Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Anaknya Meninggal Kecelakaan, Ibu di Pati Ini Tuntut Keadilan

Anaknya Meninggal Kecelakaan Ibu di Pati Ini Tuntut Keadilan

Konferensi pers yang diselenggarakan LBH Indonesia Menggugat di Teras Kopi, Jalan Ahmad Yani Pati, Senin (23/1/2023). (Murianews/Istimewa)

Murianews, Pati – Anaknya meninggal karena sebuah kecelakaan, seorang ibu warga Desa Sejomulyo, Kecamatan Juwana, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, Siti Aminah menuntut keadilan.

Anaknya, Bima Handika Putra meninggal dalam kecelakaan di Jalan Raya Pati-Juwana, tepatnya di depan pabrik PT Dua Putra, Selasa (29/11/2022) lalu.

Aminah mengatakan, saat kejadian anaknya mengendarai motor. Ia terlibat kecelakaan dengan truk bernomor polisi K 8009 OB yang dikemudikan Mohamad Bisri. Saat kejadian, Bima melaju di jalur untuk pemotor.

Sopir truk sendiri sempat ditahan di tahanan Polresta Pati. Namun, sopir truk akhirnya dibebaskan dan tidak ditetapkan sebagai tersangka.

’’Tetapi dari penyidik telah membebaskan dari tahanan sebelum ada kesepakatan damai atau putusan pengadilan. Seharusnya ditahan sesuai proses hukum pada umumnya,’’ katanya dalam konferensi pers yang diselenggarakan LBH Indonesia Menggugat, Senin (23/1/2023).

Baca: Kecelakaan Maut Terjadi di Jalan Pati-Rembang, Pemotor Tewas

Aminah sendiri masih membuka pintu kasus itu diselesaikan secara kekeluargaan. Hanya saja, ia memberikan syarat, di mana sopir truk atau perusahaan tempatnya bekerja bersedia menafkahi dua orang anak dari Bima yang masih kecil.

’’Anak saya meninggalkan dua orang anak berusia empat bulan dan empat tahun. Saya harap ada santunan yang pantas buat cucu saya sampai sekolah nanti,’’ kata dia.

Kuasa hukum Siti Aminah, Drajat Ari Wibowo menambahkan, sebenarnya sopir truk sempat menawarkan uang tali asih sebagai bentuk pertanggungjawaban. Namun, menurutnya jumlahnya tidak sepadan dengan risiko yang dihadapi kedua anak korban.

’’Sempat menawarkan tali asih sebesar Rp15 juta. Itu pun dengan kata-kata tidak mengenakkan kepada keluarga korban. Mereka bilang ’Kalau tidak mau uang segitu monggo kalau mau dilaporkan’. Klien kami ditantang untuk melanjutkan ke proses hukum kalau memang mampu,’’ imbuh dia.

Kemudian kasus itu pun dimediasi dengan Satlantas Polresta Pati. Saat itu, keluarga korban kembali ditawari kompensasi, nilainya pun jadi Rp 25 juta. Tapi pihak keluarga korban tetap tidak mau menerima nominal itu.

’’Sebab korban meninggalkan seorang istri dan dua orang anak yang masih balita dan butuh dinafkahi setidaknya sampai SMA. Yang diharapkan keluarga, pihak tersangka bertanggung jawab menafkahi anak korban sampai, paling tidak lulus sekolah,’’ papar Drajat.

Sayangnya, lanjut Drajat, saat mediasi belum selesai dan belum ada persetujuan damai dari keluarga korban, tersangka malah dibebaskan dari tahanan.

Terpisah, Kasat Lantas Polresta Pati AKP Endah Setianingsih mengatakan pihaknya belum menetapkan pengemudi truk menjadi tersangka. Pasalnya, kecelakaan itu terjadi lantaran pemotor yang menabrak truk dari belakang.

’’Laka itu antara truk dan sepeda motor. Waktu itu kendaraan di depan (truk) mau belok. Otomatis (truk) mengerem, dan dari belakang motor menabrak truk,’’ kata dia.

Ia mengatakan pihaknya tak bisa melakukan penahanan pada sopir truk. Sebab, jika itu dilakukan justru menyalahi aturan.

’’Kalau menahan (pengemudi truk), malah kena sendiri kami. Dasar hukumnya apa? Jadi statusnya (pengemudi truk) tidak tersangka,’’ ucap dia.

Menurutnya, bila kasus berlanjut ke pengadilan, justru tidak menguntungkan bagi pihak keluarga korban. Sebab, saat kejadian, justru korban yang menabrak truk.

Endah mengungkapkan, saat mediasi, pihak korban meminta uang pertanggungjawaban sebesar Rp 50 juta. Hanya saja, pihak sopir truk berkeberatan dan hanya menyanggupi sebesar Rp 25 juta.

Akibatnya mediasi pun buntu. Pihaknya pun mempersilakan kedua pihak melakukan mediasi lagi.

’’Kita bantu mediasi. Kalau dilanjutkan (ke pengadilan), (pihak korban) tidak dapat apa-apa. Di naikkan bisa. Cuma posisi korban (jiwa) tidak untung. Bisa saja tidak dapat kompensasi dan pengemudi truk tidak dijatuhi hukuman,’’ pungkas dia.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.