Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kisah Pria Penjaga Pompa Air Kudus, Biasa Tidur Ngemper dan Jarang Pulang

Kisah Pria Penjaga Pompa Air Kudus Biasa Tidur Ngemper dan Jarang Pulang

Foto: Silmi Maulana, penjaga pompa Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Jawa Tengah. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

Murianews, Kudus – Banyak pihak yang selalu terlibat jika terjadi bencana banjir, seperti di Kudus belum lama ini. Selain dari instansi terkait, penanganan banjir juga mendapat dukungan dari berbagai pihak lainnya.

Salah satunya adalah Silmi Maulana yang bertugas sebagai penjaga pompa Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juwana, Jawa Tengah.

Silmi merupakan pria kelahiran Kudus, 22 September 1998 yang berdomisili di Desa Medini, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Baca juga: Apindo Bersama Kadin dan Lasizmu Kudus Beri Bantuan Warga Pascabanjir

Pria lulusan SMA NU Mawaqiul Ulum, Kudus itu bertugas menjaga pompa air. Dirinya kerap bertugas di saat terjadi masalah banjir di berbagai daerah di Jawa Tengah. Tak hanya di Kudus, tetapi Silmi juga pernah ditugaskan di Kabupaten Pati, Jepara, Demak, dan Kota Semarang.

”Saya bergabung dengan BBWS Pemali Juwana Jateng sejak 2011. Alasan pertama karena pakde saya kerja juga di BBWS Pemali Juwana. Selain itu saya melihat pekerjaan ini seru karena sering bertemu banyak orang dan bisa membantu warga,” katanya kepada Murianews, Minggu (22/1/2023).

Silmi mengaku, sejak dahulu memang menyukai kegiatan kemanusiaan. Selain itu dirinya memang menyukai pekerjaan yang dinamis.

Pekerjaan yang ditekuni olehnya itu tidak serta merta membuatnya santai. Bahkan terkadang membutuhkan waktu yang ekstra.

”Tidurnya juga asal-asalan. Ya ngemper gitu, yang penting dekat dengan pompa (pompa yang terdapat di mobil flood pump, red),” sambungnya.

Hal itu dilakukan agar kondisi pompa tetap terpantau. Sehingga saat ada kerusakan atau trouble dapat segera diketahui.

”Harus cek solarnya juga, kemudian selang pompanya itu kemasukan sampah atau tidak. Kemudian mengecek oli dan juga radiatornya. Kalau olinya sampai habis, mesinnya mati,” terangnya.

Selain tidur ngemper, dia juga jarang pulang ke rumah. Terlebih ketika bencana banjir terjadi di berbagai tempat.

”Pulang biasanya ambil stok baju. Terus langsung berangkat lagi,” ujarnya.

Pengalaman selama bekerja di lapangan juga diutarakan saat bertugas dalam penanganan banjir di daerah Semarang. ”Saat itu kan pompanya banyak sampai sepuluh. Nah, itu sampai kehabisan solar di salah satu pompa. Akhirnya mati dan butuh waktu lima jam untuk pompa tersebut dapat hidup kembali,” ungkapnya.

Meski begitu, dia tidak kapok dan memilih untuk tetap bekerja sebagai penjaga pompa BBWS. Terlebih dirinya sudah merasa krasan.

”Rencananya ke depan tetap akan terus menggeluti pekerjaan saya ini,” imbuhnya.

 

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Dani Agus

Ruangan komen telah ditutup.