Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengunjungi Candi Morangan di Yogyakarta, Bangunan Bersejarah pada Masa Kerajaan Mataram Kuno

Mengunjungi Candi Morangan di Yogyakarta Bangunan Bersejarah pada Masa Kerajaan Mataram Kuno

Komplek Candi Morangan di Yogyakarta (visitingjogja.jogjaprov.go.id)

Murianews, Kudus – Selain panorama alam, ada banyak bangunan bersejah di Yogyakarta yang bisa dikunjungi wisatawan. Salah satunya adalah Candi Morangan yang berlokasi di Dusun Morangan, Sindumartani, Ngemplak, Sleman, DIY.

Candi Morangan memang kalah tenar dibandingkan dengan candi-candi lain di Yogyakarta memang. Meski demikian, candi ini menyimpan jejak sejarah penting pada masa lalu.

Melansir dari laman Visitingjogja, Sabtu (21/1/2023), candi bercorak agama Hindu ini berada tak jauh dari Kali Gendol Merapi dan diperkirakan dibangun pada abad 9 atau 10 Masehi pada masa Kerajaan Mataram kuno.

Baca juga: Mengunjungi Candi Sewu, Bangunan Abad ke-8 yang Erat Kaitannya dengan Legenda Roro Jonggrang

Candi ini terletak di tengah pemukiman warga dan berada pada kedalaman 2,5 meter di bawah permukaan tanah. Secara garis besar bangunan candi terdiri dari dua bangunan yaitu candi induk dan candi perwara yang disusun dari batuan andesit.

Candi induk menghadap ke barat memiliki satu bilik dengan denah bujur sangkar berukuran 7,98 x 7,98 meter dengan selasar 90 meter. Di kawasan candi induk ditemukan yoni dan beberapa arca di dalam relung-relung candi induk sebagai bukti bahwa Candi Morangan memang berlatar belakang agama Hindu. Sedangkan Candi Perwara berdenah bujur sangkat dengan ukuran kurang lebih 4 x 4 meter dan menghadap ke arah timur.

Salah satu yang menjadi keunikan dari Candi Morangan adalah adanya arca kendaraan milik Dewa Shiwa yang disebut Nandi dan di sini kita bisa melihat banyak pahatan relief. Relief di batang kaki dan tubuh candi khusus mengisahkan cerita fabel Tantri Kamandakan tentang seekor harimau yang tertipu oleh seekor kambing.

Perlu diketahui biasanya relief jenis ini hanya bisa ditemui di candi-candi dengan corak agama Buddha tentu hal ini menjadi sangat unik. Sampai saat ini bangunan Candi Morangan masih dalam proses pemugaran dan belum tersusun secara utuh tapi jangan khawatir karena akan tetap bisa mengamati relief-relief dengan rangkaian kisah yang tentunya luar biasa di reruntuhan dinding candi.

Candi Morangan memiliki 6 relief yang bisa dibaca. Relief pertama berupa gambar dua laki-laki yang sedang mengapit bunga. Diperkirakan relief ini menggambarkan salah satu proses dalam upacara keagamaan dalam agama Hindu.

Relief kedua berupa wanita yang mengapit kendi besar sekaligus membawa kendi-kendi yang berukuran lebih kecil. Kendi adalah benda untuk menyimpan air suci yang dipercaya bisa menghapus dosa.

Relief ketiga adalah gambar dua wanita yang sedang menaiki gajah. Dahulu gajah hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu sebagai simbol kemegahan dan kehormatan kerajaan.

Relief ke empat berupa tiga orang resi yang membawa lontar pustaka dan bunga teratai biru. Relief ke enam merupakan relief ayam jantan yang disangga oleh Gana. Gana menurut kepercayaan umat Hindu adalah makhluk kecil yang selalu mengiringi Dewa Shiwa selain itu ayam juga selalu digunakan sebagai binatang persembahan.

Untuk memasuki kompleks Candi Morangan pengunjung tidak dipungut biaya sepeserpun. Pengunjung hanya akan diminta mengisi buku tamu yang disediakan pengelola. Candi Morangan buka setiap hari mulai dari pukul 08.00-16.00 WIB.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: visitingjogja.jogjaprov.go.id

Ruangan komen telah ditutup.