Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

LSD Menyerang, Harga Sapi Betina di Sragen Anjlok

Peternak memberi pakan rumput hijau untuk sapi miliknya di kandang komunal di Dukuh Tenggak, Desa Tenggak, Kecamatan Sidoharjo, Sragen. (Solopos.com/Tri Rahayu)

Murianews, Sragen – Merebaknya penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang sapi di berbagai wilayah membuat harga sapi betina di Sragen anjlok. Sementara sapi pejantan yang harganya masih stabil.

Belantik sapi asal Dukuh Dawung, Desa Sukorejo, Kecamatan Gondang, Sragen, Sukarjo menyebut wilayah Gondang masih steril dari penyakit LSD. Kendati demikian, ia tetap waspada terhadap penyakit menular itu, misalnya dengan menjaga kebersihan kandang.

”Selama ini asal dapat dagangan langsung dijual. Biasanya jualnya ke Pasar Hewan Paingan Nglangon, Sragen. Bahkan sampai ke Bekonang, Sukoharjo. Tetapi harus berhati-hati karena risiko penyakit itu,” jelas Sukarjo saat dihubungi Solopos.com, Sabtu (21/1/2023).

Baca: LSD Menyerang, Peternak Sapi di Sumberlawang Minta Pemkab Sragen Bertindak

Maraknya penyakit LSD, sambung dia, berpengaruh pada harga jual sapi, khususnya yang betina. Dia menyebut sapi indukan super hanya laku Rp 12 juta – Rp 12,5 juta. Padahal, biasanya bisa Rp 15 juta – Rp 16 juta per ekor.

”Sapi anakan atau pedet betina harganya juga turun. Biasanya harga pedet betina Rp 8 juta, sekarang dibeli Rp 6 juta saja sudah bagus. Kalau pejantan masih normal. Pedet jantan juga normal. Sapi dewasa jantan itu sekarang di harga Rp 17 juta – Rp 19 juta,” ujarnya.

Sekretaris Kelompok Peternak Sapi Sumber Subur di Dukuh Kemangi, Desa Wonorejo, Kecamatan Kedawung, Sragen, Sutarman (54) mengungkapkan belum ada sapinya yang terkena LSD. Meski begitu, ia khawatir juga penyebaran LSD akan seperti PMK.

Sutarman pun mengiyakan bahwa harga sapi sekarang sedang anjlok. ”Di saat harga turun, justru pakan ternak sapi naik, seperti komboran sapi, polar, dan sejenisnya. Para penggaduh sapi tinggal kuat-kuatan. Yang penting penanganan jangan sampai terlambat,” katanya.

Delapan ekor sapi yang dimiliki Sutarman jenisnya brangus dua ekor, metal lima ekor, dan limosin satu ekor. Dari tiga jenis sapi itu, Sutarman mengatakan jenis brangus yang sejak dulu tahan terhadap penyakit dan cuaca.

Agar tidak terserang penyakit, ia rutin menyuntikkan vitamin ke sapi-sapinya secara berkala. Ia pun segera melaporkan ke petugas bila mendapati ada sapinya yang bergejala sakit.

Sutarman berharap pencegahan penyebaran penyakit itu dilakukan secara serempak bersama peternak lain. Dia tidak ingin pengalaman pahit saat kasus PMK terulang. Saat itu harga sapi turun drastis, dari Rp15 juta menjadi Rp11 juta. Menjelang Hari Raya Kurban lalu, Sutarman harus rela menjual sapi seharga Rp28 jutanya dengan harga Rp 9 juta karena wabah PMK.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.