Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Buah Jenis Ini Tak Boleh jadi Sesajian Imlek

Buah-buahan memenuhi meja sesaji di Kelenteng Hok Hien Bio Kudus. (Murianews/Vega Ma’arijil Ula)

Murianews, Kudus – Buah-buahan menjadi hal yang harus ada pada meja sesaji saat perayaan Tahun Baru Imlek. Namun ternyata tak semua jenis buah bisa digunakan untuk sajian para dewa, ada jenis buah yang jadi pantangan.

Buah yang disajikan biasanya juga punya makna dan pengharapan di Tahun Baru Imlek. Yang sering ditemui yakni jeruk, apel, pir, delima, dan pisang.

Kebanyakan orang Tionghoa percaya jeruk menjadi perlambang rezeki yang melimpah dan kebahagiaan. Kemudian apel dipercaya sebagai simbol keselamatan, buah pir sebagai harapan diberi kemudahan dalam semua urusan.

Kemudian buah delima menjadi perlambang sebuah keteladanan, dan buah pisang menjadi simbol disukai.

Meja sesaji di kelentang saat menjelang Imlek ini juga dipenuhi dengan buah-buahan. Seperti yang terlihat di di Kelenteng Hok Hien Bio di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Baca: Sambut Imlek, Keturunan Tionghoa di Kudus Nyalakan Lilin Jumbo

Sabtu (21/1/2023) hari ini meja sembahyang di kelentang itu dipenuhi berbagai jenis buah-buahan. Seperti buah pir, jeruk pamelo, apel, hingga buah pisang.

Penjaga Kelenteng Hok Hien Bio, Kundori menjelaskan, buah-buahan tersebut sebagai seserahan para dewa.

Namun menurut dia, ada jenis buah yang tidak boleh disajikan untuk dewa. Yakni jenis buah yang berduri.

”Salak dan durian kan berduri, itu tidak boleh diberikan ke para dewa. Tradisinya memang seperti itu,” katanya, Sabtu (21/1/2023).

Baca: Imlek Identik dengan Merah dan Kuning, Ternyata Ini Maknanya

Dia menjelaskan, buah-buahan itu disajikan ke para dewa. Seperti Dewa Bumi, Dewa Langit, Dewa Keadilan, Dewi Kwan In, dan dewa-dewa lainnya.

”Buahnya juga boleh dimakan umat, tetapi makannya besok (Minggu, red),” sambungnya.

Dia menjelaskan, untuk tahun ini perayaan Imlek dilaksanakan sederhana di Kelenteng Hok Hie Bio. Yakni hanya sebatas sembahyang saja. ”Tidak ada kirab. Atraksi barongsai juga tidak ada,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.