Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Metro Jakarta

Sekeluarga di Bekasi Korban Pembunuhan Berantai, Total 9 Orang Termasuk di Cianjur dan Garut

Polda Metro Jaya saat melakukan jumpa pers. (Humas Polri)

Murianews, Jakarata – Satu keluarga di Bantargebang, Kota Bekasi yang keracunan ternyata korban pembunuhan. Tak hanya di Bantargebang, Bekasi, korban pembunuhan berantai yang ternyata sudah 9 orang juga ada di Cianjur dan Garut.

Polda Metro Jaya terus mendalami kasus pembunuhan berantai atau serial killer di tiga tempat di Jawa Barat tersebut. Dari sembilan orang korban, empat di antaranya sudah dalam tinggal tulang.

Dalam pembunuhan berantai ini diketahui terdapat tiga tersangka. Mereka yakni, Wowon Erawon alias Aki, Solikin alias Dullah, dan M. Solehudin.

Mirisnya, pelaku masih memiliki hubungan kekerabatan dengan para korban. Peristiwa sadis meracuni keluarga sendiri itu pun menyingkap tabir kejahatan mereka yang disimpan bertahun-tahun.

Melansir Solopos.com, Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Mochammad Fadil Imran mengungkap pembunuhan berantai ini terkuat dari kelakuan Wowon yang tega meracun dan membunuh anak istrinya sendiri di Bantargebang, Kota Bekasi.

Ia juga memerinci sembilan korban itu meliputi tiga warga yang sebelumnya ditemukan meninggal dunia dalam kondisi mulut berbusa di Bantargebang, Kota Bekasi, Kamis (12/1/2022).

Mereka meliputi istri wowon Maemunah, dan dua anaknya yakni Ridwan Abdul Munis, dan Riswandi. Mereka dibunuh dengan cara diracun menggunakan pestisida.

Selain itu, empat orang yang dikubur di dekat rumah tersangka Solikin di Cianjur, satu orang yang mayatnya dibuang di laut kemudian ditemukan warga, dan satu korban dikubur di Garut.

Kapolda menyebut petugas sudah menggali kuburan empat korban yang dikubur dekat rumah Solikin. Para korban sudah tinggal kerangka. Empat korban dikubur dalam tiga lubang.

Satu orang dikubur di satu lubang yakni diduga anak laki-laki bernama Bayu berusia dua tahun. Dua orang dikubur dalam satu lubang diduga bernama Noneng dan Wiwid, dan satu orang dikubur di satu lubang tersendiri diduga atas nama Farida. Nama-nama itu diketahui berdasar pengakuan tersangka.

”Korban ada yang dibunuh dua tahun lalu. Ada juga yang dieksekusi empat bulan lalu,” kata Kapolda.

Dia melanjutkan tersangka mengaku mengubur satu korban lainnya di Garut. Namun, petugas belum menemukan lubang yang dimaksud tersangka. Petugas masih terus mencarinya.

Dalam pembunuhan di Bekasi, terdapat dua orang yang selamat, satu sudah dewasa dan satu lagi masih anak.

Kapolda menyebut korban yang berusia dewasa patut diduga terlibat dalam tindak kejahatan penipuan yang dilakukan tiga tersangka. Polisi akan memeriksanya lebih lanjut jika kondisinya sudah memungkinkan.

”Kalau alat bukti cukup bisa ditetapkan sebagai tersangka,” ucap Kapolda.

Dia menginformasikan tiga tersangka pembunuhan berantai melakukan kejahatan sejak lama. Modusnya mengaku bisa membuat orang kaya dalam waktu singkat menggunakan ilmu supranatural.

Mereka tidak hanya membunuh korban, tetapi tak segan membunuh saksi yang mengetahui kejahatan mereka untuk menghilangkan jejak. Hal itu seperti yang dilakukan terhadap Maemunah dan keluarganya.

Dia menguraikan tersangka membunuh para korban dengan motif utama ingin mengusai harta benda mereka. Pembunuhan diawali dari penipuan dengan memberikan janji-janji manis bahwa para korban bisa kaya.

Solikin merupakan orang yang mengaku bisa membuat orang kaya. Sementara, Wowon memiliki tugas mencari calon korban.

”Setelah mendapatkan korban, tersangka Dullah beraksi. Namun, sudah pasti janji-janji yang diberikan tidak terwujud. Kemudian korban menagih janji kepada Wowon. Selanjutnya Wowon melaporkan hal itu kepada Dullah. Dari situ Dullah mengajak korban bertemu kemudian mengeksekusi korban lalu menguasai harta bendanya,” ucap Kapolda.

Kasus pembunuhan berantai itu terbongkar berawal dari pengungkapan kasus penemuan tiga mayat sekeluarga di Bantargebang, Kota Bekasi.

Ketiga korban yang merupakan ibu dan dua anaknya itu meninggal dunia akibat diracun menggunakan pestisida yang sangat beracun. Fakta itu diketahui berdasar hasil uji laboratorium forensik pada muntahan yang ditemukan di kopi yang seduh di ruang belakang dekat sumur, muntahan di kamar depan, dan muntahan di kamar tengah.

Kesimpulan itu juga diperkuat temuan bahwa tidak ditemukan cipratan darah di dinding serta pintu rumah depan dan belakang tidak rusak. Kondisi itu menunjukkan para korban meninggal dunia bukan akibat kekerasan.

”Dari fakta-fakta tersebut, kami mengembangkan penyidikan untuk mencari tersangka. Kemudian kami menangkap tiga tersangka ini,” kata Kapolda.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.