Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Lima Ribu Kartu Tani di Jepara Belum Tersalurkan

Lima Ribu Kartu Tani di Jepara Belum Tersalurkan

Gus Haiz menyalurkan Kartu Tani kepada petani Desa Rajekwesi Jepara. (Murianews/Istimewa)

Murianews, Jepara – Sebanyak 5.009 Kartu Tani belum sampai ke tangan para petani di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Akibatnya, banyak petani yang kesulitan mendapat pupuk subsidi.

Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Jepara per Desember 2022, Kartu Tani yang sudah tercetak sebanyak 68.865 keping.

Lalu yang sudah disalurkan sebanyak 63.856 keping. Sedangkan, yang belum disalurkan sebanyak 5.009 keping.

Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Haizul Ma’arif, menyoroti masalah krusial itu. Ia mengatakan, para petani kesulitan mendapat pupuk subsidi lantaran belum punya Kartu Tani.

Baca: Anggaran Promosi Mebel Jepara Dinilai Minim

’’Ternyata saat saya undang DKPP dan BRI, masih ada ribuan Kartu Tani yang belum tersalurkan,’’ kata Gus Haiz kepada Murianews, Kamis (19/1/2023).

Selain itu, lanjut Gus Haiz, realitanya masih banyak petani yang belum mendaftarkan diri sebagai penerima Kartu Tani. Menurutnya, masalah pendaftaran dan penyaluran harus segera dituntaskan.

’’Kemarin di Desa Rajekwesi, Kecamatan Mayong, saya salurkan 99 Kartu Tani. Para petani gembira sekali,’’ ucap Gus Haiz.

Gus Haiz melihat, banyak Kartu Tani yang masih mengendap di BRI sebagai penyalur. Masalahnya, para petani yang rumahnya di pelosok belum tentu bisa mengambil ke kantor BRI. Di sisi lain, sebagian petani masih belum paham alur pengambilan Kartu Tani tersebut.

Gus Haiz menyarankan agar DKPP bersama BRI aktif berkomunikasi dengan kelompok-kelompok tani ihwal pendaftaran dan pengambilan Kartu Tani. Sehingga penyaluran Kartu Tani bisa lebih cepat.

’’Kalau menunggu diambil (petani, red), saya kira ini tidak akan selesai, tidak akan habis,’’ tandas Gus Haiz.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.