Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Banjir Berangsur Surut, Belasan Desa di Pati Masih Tergenang

Banjir Berangsur Surut Belasan Desa di Pati Masih Tergenang

Kondisi banjir di Desa Kasiyan, Kecamatan Sukolilo. (Murianews/Umar Hanafi)

Murianews, Pati – Banjir di Kabupaten Pati, Jawa Tengah, berangsur surut pada pekan ini. Meski demikian masih ada belasan desa yang tergenang air, Kamis (19/1/2023).

Berdasarkan data yang dihimpun Murianews dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati dan Kodim 0718/Pati, banjir di Kabupaten Pati menyisakan 19 desa.

Belasan desa itu tersebar di enam kecamatan, yakni Kecamatan Sukolilo, Kayen, Gabus, Pati, Jakenan, dan Juwana. Umumnya, desa-desa itu terletak di pinggir Sungai Juwana atau Sungai Silugonggo.

Ketinggian air di desa-desa itu bervariasi. Antara 10 cm hingga 150 cm.

Baca: 6.641 Hektare Sawah Padi di Pati Puso Gegara Banjir

Desa-desa yang masih tergenang di antaranya Desa Banjarsari, Mintobasuki, Tanjang, Babalan (Gabus), Kasiyan, Gadudero (Sukolilo), Srikaton, Pasuruhan, Pesagi (Kayen), Mustokoharjo (Pati), Ngastorejo (Jakenan) dan Doropayung (Juwana).

Jumlah ini menurun drastis dibandingkan sebelumnya. Berdasarkan data BPBD Kabupaten Pati, setidaknya 40 desa masih terendam banjir pada Senin (16/1/2023).

’’Perkembangan banjir saat ini sudah banyak yang surut. Tinggal beberapa desa yang masih tergenang banjir,’’ ujar Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) BPBD Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetya, Kamis (19/1/2023).

Terpisah, Camat Kayen Tri Wijanarko menambahkan, di wilayahnya ada tiga desa yang masih digenangi air. Umumnya banjir terjadi di lahan pertanian dan tambak. Sementara di pemukiman sudah surut.

’’Wilayah Kayen mulai surut. Karena empat hari panas terus. Yang rumah sudah tidak ada yang tergenang. Kalau persawahan masih lama surutnya. Biasanya satu bulan lebih baru hilang airnya. Karena ada cekungan. Ketinggian di persawahan mungkin 1 meter masih ada. Jadi bisa dilalui perahu,’’ kata dia.

Meskipun sudah tidak ada pemukiman yang tergenang air, namun Dukuh Donomulyo, Desa Srikaton masih terisolir. Pasalnya akses jalan satu-satunya yakni Desa Kasiyan belum bisa dilalui kendaraan bermotor. Masyarakat pun masih mengandalkan bantuan makanan.

’’Kalau ke sana harus menggunakan perahu. Untuk bantu ini masih mengalir,’’ pungkas dia.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.