Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

6.641 Hektare Sawah Padi di Pati Puso Gegara Banjir

6641 Hektare Sawah Padi di Pati Puso Gegara Banjir

Lahan persawahan di Desa Tanjang, Kecamatan Gabus, Pati, tergenang banjir sejak Sabtu (31/12/2022). (Murianews/Umar Hanafi)

Murianews, Pati – Sebanyak 6.641 hektare sawah padi di Kabupaten Pati puso atau gagal panen. Pasalnya, ribuan hektare sawah itu terendam banjir sejak Sabtu (31/12/2022) lalu.

Kabid Sarpras Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Pati, Kun Saptono mengatakan lahan-lahan itu tersebar di 10 kecamatan. Yakni, Kecamatan Margorejo, Dukuhseti, Pati, Jakenan, Gabus,  Kayen, Juwana, Sukolilo, Rayu dan Wedarijaka.

’’Data per 12 Januari, yang terkana dampak banjir 7.242 hektare dan yang puso sebanyak 6.641 hektare. Jadi ini data terakhir yang kami terima,’’ ujar dia.

Ribuan tanaman padi itu berumur antara 10 hingga 90 hari. Total kerugian akibat banjir di sektor pertanian ini ditaksir mencapai Rp 35,24 miliar.

Baca: Banjir, Jalan Alternatif Pati-Kudus Masih Lumpuh

’’Kerugian dari (banjir terhadap) tanaman (berusia) di bawah 30 hari sekitar Rp 4,1 juta per hektare. (Tanaman padi berusia) di atas 30 hari kerugiannya Rp 7,1 juta per hektare. Jadi ini kerugian cukup besar,’’ tutur dia.

Ia mengungkapkan daerah yang lahannya paling banyak gagal panen adalah Kecamatan Sukolilo. Sebanyak 2.018 hektare lahan persawahan di kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Kudus dan Grobogan itu gagal panen.

’’Sukolilo, 2.018 hektare. (Itu) yang paling banyak. Kami sangat prihatin. Ini ujian bagi semua. Semoga ada perhatian dari pemerintah pusat untuk membantu para petani,’’ kata dia.

Kun mengaku Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pati tidak bisa membantu banyak untuk membantu meringankan kerugian para petani ini. Pasalnya, tidak ada anggaran. Pihaknya hanya bisa melaporkan kondisi ini ke pemerintah pusat agar ada penanganan.

’’Asuransi pertanian menjadi hal yang penting untuk bapak ibu petani. Seperti halnya asuransi pada manusia. Kalau ada asuransi insyaallah membantu. Kabupaten, belum banyak yang bisa kita lakukan, karena terbatas anggaran,’’ pungkas dia.

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.