Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengunjungi Panggung Krapyak Yogyakarta, Tempat Berburu Menjangan Kerabat Kraton

Mengunjungi Panggung Krapyak Yogyakarta Tempat Berburu Menjangan Kerabat Kraton

Panggung Krapyak Yogyakarta (visitingjogja.jogjaprov.go.id)

Murianews, Yogyakarta– Ada banyak bangunan bersejarah di Yogyakarta yang masih lestari hingga saat ini. Salah satunya adalah Panggung Krapyak.

Panggung Krapyak merupakan salah satu bangunan yang masuk dalam garis imajiner kota Yogyakarta. Yakni, Gunung Merapi, Tugu Jogja, Kraton Yogyakarta, Panggung Krapyak dan Laut Selatan.

Panggung Krapyak adalah sebuah bangunan bersejarah berbentuk ruangan menyerupai kubus. Bangunan ini terletak di bagian selatan Keraton Yogyakarta.

Baca juga: Mengenal Plengkung Gading, Bangunan Bersejarah di Jogja yang Instagramable

Bagian dinding kini tampak berwarna hitam, menunjukkan usianya yang hampir menyamai usia Kota Yogyakarta, seperempat milenium. Bangunan tampak masih kokoh, namun beberapa bagian sempat mengalami kerusakan akibat gempa 27 Mei 2006.

Cerita Sejarah Panggung Krapyak

Melansir dari laman Visitingjogja, Selasa (17/1/2023), konon Krapyak adalah sebuah hutan yang menjadi habitat banyak satwa, salah satunya rusa atau menjangan. Keluarga kerajaan Mataram Islam sangat gemar berburu di tempat ini. Salah satunya adalah Prabu Hanyokrowati, putra Panembahan Senopati.

Kegemarannya berburu menyebabkan beliau meninggal di hutan Krapyak pada tahun 1610. Beliau diberi gelar Panembahan Seda Krapyak dan disemayamkan di Kotagede.

Panggung Krapyak dibangun sekitar tahun 1760 oleh Sri Sultan HB I yang memiliki kegemaran yang sama dengan Prabu Hanyokrowati yaitu berburu. Panggung sebagai pos berburu sekaligus sebagai daerah pertahanan dari binatang buas.

Panggung Krapyak yang menyerupai kotak ini memiliki ukuran luas 17,6 m x 15 m dan tinggi 10 m. Dindingnya terbuat dari batu bata merah yang dilapisi semen. Pada setiap sisinya terdapat sebuah pintu dan dua buah jendela yang berada di kanan kirinya. Bangunan ini terdiri dari dua lantai.

Lantai bawah terbagi ke dalam empat ruangan yang dihubungkan oleh lorong. Lantai atas atau atapnya adalah sebuah tempat terbuka yang dibatasi oleh pagar di keempat sisinya yang digunakan sebagai tempat berburu binatang.

Beberapa orang menduga jika bangunan ini juga digunakan oleh prajurit Mataram sebagai pos pertahanan. Konon dari tempat ini gerakan musuh dari arah selatan bisa dipantau sehingga bisa memberikan peringatan kepada Keraton jika ada bahaya.

 

 

Penulis: Dani Agus
Editor: Dani Agus
Sumber: visitingjogja.jogjaprov.go.id

Ruangan komen telah ditutup.