Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Grobogan Meningkat di 2022

Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Grobogan Meningkat di 2022

Sub Koordinator Penanganan dan Pencegahan Kasus Kekerasan DP3AKB Grobogan, Maryatun menunjukkan data kasus kekerasan pada anak dan perempuan. (Murianews/Saiful Anwar)

Murianews, Grobogan – Kasus kekerasan perempuan dan anak di Kabupaten Grobogan meningkat. Di mana, ada 67 kasus terjadi pada 2022 dibandingkan pada 2021 dengan 48 kasus.

Menurut data Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Grobogan, dari jumlah tersebut 30 di antaranya merupakan kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Sebanyak 37 kasus, korbanya merupakan perempuan dewasa. Sedangkan 30 sisanya, korbannya adalah anak-anak.

Sub Koordinator Penanganan dan Pencegahan Kasus Kekerasan DP3AKB Grobogan, Maryatun mengatakan, kasus kekerasan pada perempuan dan anak sebenarnya layaknya fenomena gunung es.

Baca: Ponpes Lokasi Santri Meninggal Ternyata Diusulkan jadi Pesantren Ramah Anak Grobogan

’’Sebenarnya di lapangan lebih banyak lagi. Yang lapor ke sini hanya segini. Kalau masyarakat sudah tahu ada lembaga yang menangani kekerasan, Swatantra ini, mungkin lebih banyak lagi,’’ ujarnya, Selasa (17/1/2023).

Maryatun mengatakan, Swatantra berbasis pada delik aduan. Mereka yang mengadu akan ditangani sesuai dengan laporan yang diadukan.

’’Di sini kan ada mediasi, penjangkauan korban dulu, butuhnya apa. Dia mau dirujuk ke psikolog, atau butuh bantuan hukum, atau yang lain. Kalau hanya konseling, kita bisa menangani. Ke psikolog kalau sudah berat,’’ paparnya.

Dia berharap, masyarakat bersedia melapor ke pihaknya apabila menerima kekerasan baik fisik maupun non fisik. Dengan begitu, nantinya bisa ditangani secara tepat dan tidak terjadi hal yang tidak diinginkan.

Sebagai pencegahan, kata Maryatun, selama ini pihaknya telah melakukan sosialisasi Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM).

’’Selama ini sosialisasi ke desa-desa, sosialisasi PATBM. Di dalamnya sudah termasuk perlindungan perempuan. Tapi karena terbatasnya anggaran, kami kadang nimbrung acara lain,’’ katanya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.