Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

LSD Serang Jepara di Tengah PMK Kembali Ngegas

LSD Serang Jepara di Tengah PMK yang Kembali Ngegas

DKPP Jepara memeriksa ternak yang terjangkit virus LSD. (Murianews/DKPP Jepara)

Murianews, Jepara – Virus Lumpy Skin Disease (LSD) telah menyerang ternak di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Padahal, kabupaten berjuluk Kota Ukir itu masih bergelut dengan masalah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Jepara, Diyar Susanto melalui Kabid Peternakan dan Keswan Mudhofir mengatakan, saat ini sudah tiga ekor sapi yang positif LSD.

Itu sudah dikonfirmasi dari hasil pemeriksaan sampel di laboratorium Yogyakarta dua hari lalu. Tiga ekor itu ada di Desa Bugel Kecamatan Kedung, Desa Pendem Kecamatan Kembang dan Desa Batealit, Kecamatan Batealit.

’’Tiga ekor sapi itu ternak milik warga,’’ kata Mudhofir, Selasa (17/1/2023).

Baca: Kasus PMK di Jepara Kembali Ngegas

Dia menjelaskan, virus LSD menyebar lewat gigitan vektor seperti lalat penghisap darah. Sapi-sapi yang saat ini terjangkit LSD mengalami bentol-bentol pada kulit dan merata di sekujur tubuh.

Mudhofir mengaku belum menyelidiki kasus LSD lebih dalam. Termasuk, terkait dari mana muara virus itu.

Pihaknya juga belum berani memastikan virus itu lewat distribusi ternak antar pedagang. Sebab, ada ternak yang terkonfirmasi positif LSD itu ternyata tidak pernah ke luar kandang.

Mudhofir khawatir virus LSD menyebar cepat. Alasannya, saat ini kondisi di Jepara masih musim penghujan.

Menurutnya, secara langsung maupun tidak, musim penghujan sangat berpengaruh pada ketahanan tubuh ternak. Di sisi lain, virus akan mudah menyerat saat imunitas ternak menurun. Ternak muda sangat rentan terserang LSD.

’’Penyebarannya lebih cepat LSD. Tapi tingkat kematiannya lebih rendah dibanding PMK,’’ jelas Mudhofir.

Baca: LSD Menyerang, Peternak Sapi di Sumberlawang Minta Pemkab Sragen Bertindak

Ia menyebut, meski terjangkit LSD, daging ternak masih bisa dikonsumsi manusia. Hanya saja kualitas dagingnya menurun dan mengonsumsinya harus lebih berhati-hati.

Setelah ada ternak yang terkonfirmasi positif LSD, pihaknya langsung melakukan langkah-langkah strategis. Di lapangan, penanganan dan pengobatan diambil alih DKPP. Dokter-dokter hewan sudah diterjunkan untuk mengobati ternak tersebut.

Selain itu, pihaknya juga telah menginformasikan terkait virus LSD itu secara masif kepada masyarakat dengan berbagai media. Langkah ini bahkan sudah dimulai sekitar 1,5 bulan lalu.

Mudhofir menambahkan, sebenarnya peternak bisa melakukan langkah antisipatif. Prinsipnya kandang harus bersih, disemprot dengan deterjen, pemberian pakan teratur, jika ada ternak baru harus dikarantina, dan pada malam harinya diupayakan ada asap aktif supaya lalat tidak mendekat.

’’Kalau ada tanda-tanda LSD pada ternak, segera hubungi tenaga kesehatan hewan terdekat. Nanti akan langsung ditangani,’’ tandas Mudhofir.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.