Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Scaloni Beber Suksesnya Bersama Argentina

Lionel Scaloni

Lionel Scaloni saat mengangkat tropi Piala Dunia 2022. (facebook.com/beinsportsindonesia/photos)

Murianews, Boenos Aires – Scaloni beber suksesnya bersama Argentina. Pelatih bernama lengkap Lionel Scaloni ini, bisa jadi telah menjadi pelatih tersukses di Argentina saat ini.

Keberhasilannya merebut Piala Copa Amerika 2021, Finallisima 2022 dan Piala Dunia 2022 adalah bukti kesuksesan itu. Dan gelar terakhir bersama Argentina itulah, puncak dari sukses Scaloni.

Baru-baru ini, Scaloni membeberkan kisah suksesnya, terutama tentang Piala Dunia 2022. Pelatih asal Argentina ini menceritakan bagaimana kesan dan cerita dibalik suksesnya ini.

“Piala Dunia adalah film dan perjalanan yang luar biasa. Kunci dari seluruh kejuaraan adalah menikmatinya dengan mengetahui kesulitan yang saya alami dan siapa pun bisa memenangkannya,” kata Scaloni memulai.

Lionel Scaloni, juga menyatakan dirinya akan memilih Messi dibanding Maradona, jika memang harus memilih dari keduanya. Lionel Messi diakuinya menjadi salah satu kunci sukses dirinya sebagai pelatih Timnas Argentina.

Scaloni tidak pernah ragu untuk menyebut Messi adalah ‘yang terbaik dalam sejarah’, dan memiliki ‘sesuatu yang istimewa’. Karena itu, saat pertama kali ditunjuk menjadi pelatih Timnas, dirinya langsung berbicara dengan Lionel Messi.

“Hal pertama yang saya dan (Pablo) Aimar lakukan ketika kami ditunjuk untuk mengelola tim nasional adalah melakukan panggilan video dengan Messi. Dia memberi tahu kami bahwa dia pikir itu biadab,” ujar Scaloni.

“Dan hal pertama yang kami katakan kepadanya adalah, ‘Kami menunggumu. Kembalilah.’ Begitulah, dia (Messi) datang pada 7-8 bulan dan kami menemukan tim yang luar biasa,” tambahnya.

Sejak itu, Scaloni menyatakan semuanya berjalan dengan lancar. Tentang Piala Dunia, dirinya juga mendapatkan firasat melalui ayahnya. Orang yang disayanginya itu menunjukan kepada dirinya bahwa dirinya sangat yakin piala itu akan dimenangkan anaknya.

“Ayah saya mengalami stroke dan hanya bisa menggerakkan satu tangan. Dengan satu tangan itu, sebelum Piala Dunia dia seperti memegang Piala ke atas seolah dia memenangkannya. Dia selalu sangat optimis dan yakin bahwa itu akan terjadi,” ujarnya.

Berbicara tentang pertandingan final, Scaloni mengaku sangat emosional saat itu. Namun dirinya merasa sangat bersemangat sekali. Meski juga terselimuti oleh rasa tegang tak kunjung habis.

“Sampai menit kedelapan puluh saya tahu itu adalah pertandingan yang spektakuler, tetapi dari sana berbeda. Saya memiliki gambar dan kecocokan di kepala saya. Sangat disayangkan untuk tidak menutupnya dalam sembilan puluh menit karena itu tidak adil gol dari mereka di akhir perpanjangan,” katanya.

Scaloni akan mengingat momen itu sebagai sebuah momen yang spektakuler. Saat itu para pemainnya mencapai sebuah kebersamaan sebagai sebuah tim, yang luar biasa.

 

Penulis: Budi Santoso
Editor: Budi Santoso
Sumber: Marca

Ruangan komen telah ditutup.