Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Tanah Gerak, 30 Rumah di Beketel Pati Rusak

Tanah Gerak 30 Rumah di Beketel Pati Rusak

Salah satu warga menunjukkan rumahnya yang dibongkar akibat tanah gerak. (Murianews/Umar Hanafi)

Murianews, Pati – Bencana tanah gerak terjadi di Dukuh Jaten Lor, Desa Beketel, Kecamatan Kayen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Akibatnya 30 rumah di RT 3 RW 2 desa tersebut rusak.

Perangkat Desa Beketel, Rhian Ashari mengatakan dari 30 rumah itu, empat di antaranya rusak berat. Empat rumah itu yakni milik Ratemo, Mugiyaton, Sulastri, dan Saikun.

Rumah-rumah itu pun terpaksa dibongkar untuk menghindari kerusakan yang lebih parah.

’’Kejadiannya, Senin (9/1/2023). Sebelumnya ada hujan lebat setelah itu beberapa rumah mengalami kerusakan. Sebanyak 4 rumah yang parah. Total 30 rumah yang terdampak (bangunan fisik berubah),’’ tutur Rhian saat ditemui Murianews, Selasa (17/1/2023).

Baca: Bupati Wonogiri Izinkan Siswa Main Lato-Lato di Sekolah, Asal di Jam Istirahat

Rumah-rumah itu umumnya rusak pada bagian lantai dan dinding. Bahkan, salah satu rumah ada yang sampai lantainya naik sekitar 80 cm akibat tanah gerak.

Sementara, rumah yang bermaterial kayu jati itu pun dibongkar. Beberapa rumah juga miring. Warga terpaksa menyangga dengan kayu agar tidak roboh.

Ia menuturkan pihak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati sudah mengecek ke lokasi. Hasilnya, kondisi tanah di sana tidak cocok untuk pemukiman. Warga pun direkomentasikan untuk pindah ke tempat yang lebih aman.

’’Di atas ada retakan dan membuat akses jalan air (saat hujan). Jadi sungai. Tempat itu jangka panjang tidak baik untuk pemukiman. Solusinya harus pindah,’’ kata dia.

Baca: BNPB Turun Langsung Tinjau Tanah Gerak di Siwarak Purbalingga

Ia menuturkan sebenarnya pihak Perhutani sudah memberikan opsi dan menyediakan tanah untuk digunakan sementara. Namun hanya satu keluarga yang bersedia.

’’Bila berkenan mau direlokasi ke (lahan) Perhutani. Tetapi karena akses jauh, yang mau hanya satu keluarga. Akhirnya, tidak jadi,’’ ujar dia.

Ia mengungkapkan pada 1999 lalu, kondisi serupa juga terjadi di sekitar kejadian saat ini. Bahkan lebih parah, sebuah rumah mengalami roboh lantaran tanah mengalami longsor.

’’Tahun 1999 pernah terjadi malah satu rumah ambruk longsoran. Lokasinya sama, cuma di pinggir jalan. Ini kami membuat proposal agar diberikan bantuan oleh pemerintah,’’ pungkas dia.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.