Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

LSD Menyerang, Peternak Sapi di Sumberlawang Minta Pemkab Sragen Bertindak

Ilustrasi kulit sapi yang terserang LSD. (bbvetwates.ditjenpkh.pertanian.go.id).

Murianews, Sragen – Peternak sapi di Sumberlawang, Sragen, Jawa Tengah meminta Pemkab Sragen turun tangan untuk mengatasi penyakit kulit Lumpy Skin Disease (LSD). Pasalnya, penyakit tersebut tengah menjangkit ke banyak sapi dan meresahkan petani.

Kepala Desa (Kades) Cepoko, Sumberlawang, Sragen, Ngadiman mengungkapkan kasus LSD saat terjadi hampir menyeluruh di wilayah Sumberlawang.

”Saya dapat informasi yang sudah terdeteksi ada di Desa Cepoko, Ngandul, Ngargotirto, Ngargosari, Hadiluwih, Pagak, Jati, Pendem, Tlogotirto, dan Kacangan,” jelasnya.

Ngadiman menilai sebaran penyakit LSD lebih banyak dari PMK. Dia menyampaikan banyak ternak sapi yang sakit, bahkan ada yang mati. Hanya, ia tidak mengetahui persis penyebab kematian sapi itu.

Dia pun meminta ada penanganan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen supaya penyakit itu tidak meresahkan warga.

”Di Cepoko ada lebih dari satu ekor yang mati,” katanya.

Dia berharap ada tindakan pengobatan gratis dari Pemkab Sragen. Dia mengatakan para peternak itu kalau mengundang mantri hewan itu bayar.

”Kalau bayar terus ya pusing warganya. Pemerintah bisa menganggarkan bagaimana caranya agar tidak menyusahkan peternak,” harapnya.

Sementara itu, Camat Sumberlawang, Sragen, Indarto, mengungkapkan penyakit LSD di Sumberlawang memang ada tetapi kasus sapi yang mati itu kemungkinan karena PMK bukan LSD.

”Informasi PMK muncul lagi dan berakibat kematian yang kami terima baru di Desa Jati. Kami masih melakukan pengumpulan bahan keterangan untuk menindaklanjuti informasi yang ada,” ujarnya.

Indarto mengungkapkan asumsi vaksin PMK yang dilakukan Pemkab Sragen belum menyasar ke semua dukuh, khususnya di Dukuh Tanjungsari, Desa Jati, Sumberlawang, karena keterbatasan vaksin dan masih ada beberapa warga yang menolak vaksin.

”Untuk kasus Cepoko, belum ada informasi sapi mati, baik dari perangkat maupun teman-teman penyuluh,” tambahnya.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.