Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bupati Wonogiri Izinkan Siswa Main Lato-Lato di Sekolah, Asal di Jam Istirahat

Ilustrasi Lato-lato. (Iluslator: Murianews/Nafis)

Murianews, Wonogiri — Bupati Wonogiri Joko Sutopo mengizinkan siswa main lato-lato di sekolah. Asalkan, permainan tersebut tak dimainkan saat jam pelajaran.

Bupati yang akrab disapa Jekek itu menyebut tidak ada ada hal yang urgen untuk melarang permainan lato-lato dimainkan di sekolah.

Permainan yang sempat ngetren pada 1980-an ini dinilai tidak mengganggu proses belajar mengajar. Sebaliknya, mainan ini justru bisa menjadi sarana relaksasi bagi siswa saat istirahat.

”Kalau dibilang mengganggu, enggak juga. Dibandingkan ini (gawai), ya lebih mengganggu handphone (HP),” katanya seperti dikutip Solopos.com.

Menurutnya pelarangan mainan lato-lato sangat tidak substansial. Ada hal yang lebih penting dipikirkan misalnya bagaimana cara meningkatkan literasi siswa dan kompetensi guru-guru di Wonogiri.

”Apa esensinya pelarangan lato-lato? Kalau itu dimainkan saat jam istirahat untuk refreshing dan relaksasi apa ya mau dilarang? Aturan mainnya tidak seperti itu,” ujar dia.

Sementara itu, Kepala Sekolah SDN 6 Wonogiri, Eko Siswanto, menyampaikan belum ada pelarangan secara resmi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Wonogiri terhadap mainan lato-lato di sekolah.

Meski begitu, pihaknya mengambil sikap dengan melarang permainan lato-lato untuk dimainkan di sekolah. Dia menilai permainan lato-lato ini cukup pembelajaran menganggu lantaran mengeluarkan bunyi bising.

”Selain itu, bagi siswa atau orang yang sensitif kebisingingan, ini akan meinumbulkan efek negatif kepada mereka. Misalnya, suasana hatinya menjadi mudah marah, kesal, dan sebagainya,” kata Eko.

Pelarangan itu, lanjut dia, sudah diterapkan beberapa waktu lalu ketika permainan lato-lato itu mulai ngetren di Wonogiri. Kebijakan ini sudah disampaikan kepada siswa dan orang tua siswa.

Mereka semua telah menyepakati hal tersebut. Menurut Eko, sikap ini diambil sebagai bagian dari upaya menciptakan sekolah ramah anak.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Ruangan komen telah ditutup.