Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Begini Cara Muslim Tionghoa di Kudus Merayakan Imlek

Ilustrasi Imlek 2023. (Pixabay)

Murianews, Kudus – Masyarakat Tionghoa sebentar lagi akan merayakan Tahun Baru Imlek 2564 Kongzili. Keturunan Tionghoa apapun agamanya bersuka cita merayakan tahun baru ini, tak terkecuali muslim Tionghoa yang ada di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah.

Banyak dari mereka pun kemudian merayakannya dengan berbagai tradisi. Baik dari sebelum hingga sesudah Imleknya, seperti kirab budaya, bersih-bersih Kong Co alias patung dewa, hingga perayaan Cap Go Meh di akhir Imlek nanti.

Tradisi-tradisi lainnya pun mengiringi perayaan Imlek sesuai dengan budaya dan di mana mereka berada.

Tak terkecuali umat Muslim Tionghoa di Kabupaten Kudus. Walau tidak semeriah perayaan Imlek yang umum, mereka tetap merayakan dengan caranya sendiri.

Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Kudus, adalah wadah mereka. Tak jarang, mereka berkumpul untuk mengaji bersama atau hanya sekadar berkumpul bersama dan merayakan Tahun baru Imlek bersama-sama.

Baca: Mengenal Cap Go Meh dalam Puncak Perayaan Imlek

Namun pada tahun ini, anggota PITI Kudus ingin merayakan Imlek lebih intim bersama keluarga masing-masing.

”Untuk tahun ini merayakan Imlek bersama keluarga besar saja di rumah masing-masing,” ucap Ketua PITI Kudus Peter M Faruq saat dihubungi Murianews, Selasa (17/1/2023).

Baginya Imlek hanyalah seputar pergantian tahun baru saja. Memberi ucapan selamat kepada para kerabat, dan sesekali memberi angpau pada yang muda-muda sebagai bentuk salam tempel tahun baru.

”Jadi ya benar-benar berkumpul, kita saling mengucapkan selamat tahun baru, kita makan bersama, kalau ada anak kecil biasanya dia minta angpau, kita kasih, kurang lebihnya seperti itu,” lanjut Peter.

Baca: Begini Doa Imlek Warga Tionghoa Jepara di Tahun Kelinci Air

Soal santapan sendiri, lanjut Peter, para masyarakat Tionghoa akan menyesuaikan dengan agama yang mereka percayai. Semisal muslim Tionghoa tentunya tidak akan menyajikan makanan-makanan yang dilarang oleh agama.

”Kalau Buddha ya berarti tidak ada daging, kalau dia Katolik ya mungkin ada santapan babi, jadi luwes saja. Karena Imlek sejatinya mengucapkan selamat tahun baru kepada keluarga-keluarga tercinta,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.