Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Oei Ing Kiat, Adipati Lasem Keturunan Tionghoa yang Rendah Hati

Oei Ing Kiat Adipati Lasem Keturunan Tionghoa yang Rendah Hati

Makam Oei Ing Kiat. (Google)

Murianews, Rembang – Pada 1720-1750, Kadipaten Lasem (sekarang pindah jadi Kabupaten Rembang) memiliki seorang Adipati keturunan Tionghoa. Ia bernama Oei Ing Kiat.

Salah satu sejarawan asal Lasem, Exsan Ali Setyonugroho menjelaskan, Oei Ing Kiat merupakan keturunan Badranala yang kemudian sampai ke Bi Nang Un.

’’Beliau itu adalah leluhurnya, Badranala. Keturunan Badranala, yang kemudian sampai ke Bi Nang Un. Karena di Lasem itu kan perkawinan antaretnis sangat masif. Jadi Oei Ing Kiat itu Tionghoa Peranakan,’’ kata Exsan, dikutip dari Detik.com, Senin (16/1/2023).

Baca: Perayaan Imlek di Lasem Rembang Digelar Sederhana

Meski keturunan Tionghoa, Oei Ing Kiat merupakan seorang muslim. Ia dinobatkan menjadi Adipati sebelum meletusnya Perang Kuning pada 1741.

’’Sebelum Perang Kuning, Oei Ing Kiat sudah dinobatkan sebagai adipati, sampai 1750-an, karena pada saat itu kadipatennya dipindah ke Rembang,’’ tutur

Exsan mengatakan, Oei Ing Kiat sebelumnya merupakan seorang saudagar kaya. Meski ia berasal dari keturunan Tiongkok, Oei Ing Kiat justru tak mencirikan seperti orang China.

’’Dia (Oei Ing Kiat) saudagar kaya-raya yang dermawan, tidak mencirikan orang China yang pelit dan angkuh,’’ ujarnya.

Sosoknya rendah hati dan tidak suka menampakkan kehebatannya di depan umum. Selain itu, dia juga dikenal sebagai orang yang bijaksana.

Oei Ing Kiat juga dikenal menghormati orang-orang Jawa secara kebudayaan. Bahkan, dia akrab dengan Raden Panji Margono yang mestinya menjabat Adipati.

Saat terjadi pembantaian etnis Tionghoa di Batavia (sekarang Jakarta) oleh Vereenigde Oostindische Compagni (VOC), Oei Ing Kiat banyak menolong orang-orang keturunan Tiongkok.

Mereka yang mencari perlindungan ke Lasem, Oei Ing Kiat bersedia menolong mereka. Kisah pilu itu terjadi sekitar tahun 1740.

’’Sangat terbuka dengan penderitaan orang lain. Ketika di Batavia ada pembantaian orang-orang Tionghoa di Kaliangke, itu Oei Ing Kiat sebagai Adipati menerima eksodus atau diaspora orang-orang yang selamat dari pembantaian oleh VOC di Batavia. Mereka kan lari ke sini (Lasem), tahun 1740. Mereka meminta perlindungan juga,’’ ungkap Exsan.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Detik.com

Ruangan komen telah ditutup.