Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Santri di Grobogan Meninggal Usai Berkelahi, Begini Mulanya

Santri di Grobogan Meninggal Usai Berkelahi Ternyata Gegara Ini

Ilustrasi

Murianews, Grobogan – Seorang santri salah satu Pondok Pesantren (Ponpes) di Kabupaten Grobogan meninggal dunia usai berkelahi. Diketahui, peristiwa itu bermula dari masalah sepele.

Pengasuh pondok tersebut, Amin mengatakan perkelahian pelaku dan korban bermula dari candaan bau ketiak. Menurut Amin, candaan semacam itu lumrah terjadi bagi sebagian santri putra.

’’Berawal dari bercanda setelah mengaji. Bercanda bau-bauan ketiak. Ya (kesehariannya begitu, red). Kemudian terjadi kontak fisik. Tanpa sengaja, korban tersungkur ke belakang,’’ terangnya, Senin (16/1/2023).

Saat kontak fisik terjadi, lanjut Amin, kepala korban sempat terbentur pintu. Meski tak ada luka-luka di kepala, insiden itu disebut jadi penyebab meninggalnya korban.

Baca: Berkelahi di Pondok, Santri di Kradenan Grobogan Meninggal

’’Kepala korban sedikit membentur pintu. Tapi ini semua saya hanya tahu dari informasi reka ulang. Enggak ada luka sama sekali yang terlihat. Ini yang membuat kepolisian melakukan autopsi,’’ paparnya.

Amin mengaku tidak tahu apakah korban memiliki penyakit bawaan atau tidak. Namun, korban memang sempat izin karena sakit panas.

’’Selama ini kurang tahu (apakah ada penyakit bawaan atau tidak, red). Memang korban pernah izin sakit, tapi hanya sakit panas,’’ lanjutnya.

Lebih lanjut, Amin mengatakan, korban sudah mondok di ponpes yang diasuhnya selama 2,5 tahun. Sedangkan, pelaku baru setengah tahun. Terkait peristiwa itu, Amin menyatakan pihak keluarga sudah mengikhlaskan.

’’Dari keluarga korban sudah mengikhlaskan. Semoga husnul khotimah,’’ pungkasnya.

Sebelumnya diberitakan, santri berinisial TNU (14) meninggal usai berkelahi dengan temannya sesama santri, MQH (13), Minggu (16/1/2023). Korban sempat dilarikan ke Puskesmas Kradenan 1, namun nyawanya tak tertolong.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.