Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mebel Jepara Masih Tertatih di Pasar Global

Mebel Jepara Masih Tertatih di Pasar Global

Salah satu warga Jepara mengukir relief. (Murianews/Faqih Mansur Hidayat)

Murianews, Jepara – Industri mebel Jepara masih tertatih di pasar global. Meski pandemi Covid-19 telah terlewati, mereka masih belum bisa bangkit sepenuhnya.

Ketua DPD Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Jepara, Antonius Suhandoyo mengatakan saat ini memang masih jadi masa sulit bagai industri mebel, terutama di Jepara.

Dijelaskan, saat ini pengusaha mebel Jepara masih minim mendapatkan order. Bahkan, bisa disebut belum ada order baru yang masuk.

Handoyo mengatakan, salah satu alasannya, para pembeli di luar negeri masih memiliki stok melimpah dari pembelian tahun lalu. Di sisi lain, tahun lalu terjadi banyak penumpukan mebel ekspor yang tertahan di perkapalan akibat biaya melesat tinggi.

Baca: Begini Doa Imlek Warga Tionghoa Jepara di Tahun Kelinci Air

’’Itu akibat tutupnya beberapa pelabuhan negara tujuan. Yang mana itu mengakibatkan banyak sekali kapal yang antre dan belum bisa dibongkar. Rata-rata barang dari kita masih parkir di kapal,’’ jelasnya pada Murianews, Sabtu (14/1/2023).

Diungkapkan, pada November 2022 industri mebel sempat mendapatkan ’’angin surga’’ dari buyer. Mereka menyebut akan ada order besar-besaran.

Sebab, lanjut Handoyo, di negeri para pembeli mebel memasuki musim dingin, yakni periode November-Januari. Namun, nyatanya itu hanya harapan palsu.

’’Sehingga turun permintaan pasarnya,’’ kata Handoyo.

Ia kemudian membandingkan permintaan mebel dari Januari-November 2021 dan Januari-November 2022. Pada 2021, penurunan permintaan mencapai 70 persen. Sedangkan di 2022, penurunannya sekitar 65 persen.

Sampai saat ini, lanjut dia, tujuan pasar ekspor mebel dan furniture Jepara masih di Amerika Serikat dan di Eropa. Di Eropa yang disasar yaitu Inggris, Prancis, Belgia, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Handoyo mengungkapkan, kini para eksportir dihadapkan dengan kondisi sulitnya menembus pasar yang tertutup itu. Padahal, biaya perkapalan sudah turun mendekati angka normal seperti sebelum adanya pandemi lalu.

Misalnya biaya perkapalan ke Amerika Serikat, saat pandemi biayanya tembus 25 ribu dolar per kontainer. Sedangkan saat ini turun di angka 8-12 ribu dolar per kontainer.

’’Kami berharap masalah global bisa segera usai sehingga dampak buruk yang menjadi beban teman-teman pengusaha mebel di Jepara bisa hilang,’’ harap Handoyo.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.