Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kasus Pernikahan Anak di Grobogan Masih Tinggi

Kasus Pernikahan Anak di Grobogan Masih Tinggi

Foto: Ilustrasi pernikahan (Lubov Lisitsa dari Pixabay)

Murianews, Grobogan – Kasus pernikahan anak di Kabupaten Grobogan masih tergolong tinggi. Pada 2022 saja, angka pengajuan dispensasi nikah yang disetujui Pengadilan Agama Purwodadi mencapai 872 kasus.

Meski angka tersebut lebih rendah dari tahun sebelumnya, yakni 901 kasus pada 2021. Namun, jumlah tersebut dinilai masih tinggi.

Panitera Muda Hukum PA Purwodadi, Sunarto mengatakan, tingginya kasus pernikahan dini karena adanya perubahan aturan minimal seseorang bisa nikah. Di mana, sebelumnya 16 tahun menjadi 19 tahun.

’’Dinaikkannya minimal usia menikah dari 16 tahun menjadi 19 tahun membuat pengajuannya mengalami kenaikan juga. Ada banyak faktor lain seperti hamil duluan, tetapi yang utama karena aturan baru itu,’’ ujarnya, Sabtu (14/1/2023).

Baca: Banjir, 400 Hektare Lahan Pertanian di Grobogan Dipastikan Puso

Rata-rata, kata dia, mereka yang mengajukan yakni perempuan dengan usia 14 tahun. Selain itu, kemiskinan juga menjadi penyebab tingginya pengajuan dispensasi.

’’Dianggapnya kalau segera menikah bisa meringankan beban keluarga. Paling kecil ada yang usianya masih 13 tahun,’’ imbuhnya.

Meski angkanya sudah tinggi, namun sebenarnya ada pengajuan yang ditolak karena beberapa sebab. Yakni tidak memenuhi unsur kedaruratan.

Terkait banyaknya kasus pernikahan dini, Sunarto menyebut, peran orangtua dalam mengasuh dan mengawasi putra-putrinya menjadi hal yang sangat penting. Selain itu, butuh lebih banyak penyuluhan dan peningkatan pendidikan.

Kasus pernikahan anak mesti ditekan karena rata-rata mereka juga kembali lagi ke Pengadilan Agama untuk pengajuan gugatan cerai. Menurut Sunarto, pernikahan anak membuat mental mereka belum siap.

’’Dampak pernikahan ini bisa potensi KDRT juga naik,’’ katanya.

 

Reporter: Saiful Anwar
Editor: Zulkifli Fahmi

Ruangan komen telah ditutup.