Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Kudus Usulkan Tambahan Seribu Vaksin LSD untuk Sapi

Ilustrasi kulit sapi yang terserang LSD. (bbvetwates.ditjenpkh.pertanian.go.id).

Murianews, Kudus – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Kudus, Jawa Tengah mulai ancang-ancang untuk mencegah penyakit Lumpy Skin Disease (LSD) yang menyerang ternak sapi. Yakni dengan mengajukan tambahan seribu dosis vaksin LSD.

Penyakit LSD merupakan penyakit kulit infeksius yang disebabkan Lumpy Skin Disease Virus (LSDV). Penyakit ini kerap ditemukan pada sapi dan kerbau.

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Dispertan Kabupaten Kudus, Agus Setiawan mengatakan, pihaknya telah memiliki 200 dosis vaksin LSD. Vaksin tersebut telah tersedia sejak pekan lalu.

”Kami sudah ada 200 dosis vaksin LSD. Kami usulkan tambahan seribu dosis lagi untuk pencegahan agar tidak terjadi penularan,” katanya, Sabtu (14/1/2023).

Baca: Mengenal Penyakit LSD yang Mengancam Sapi dan Gejalanya

Permintaan penambahan vaksin LSD tersebut diusulkan ke Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah. Pihaknya menjelaskan perkiraan vaksin LSD datang di akhir bulan ini. ”Harapan kami secepatnya dapat terkirim,” imbuhnya.

Sementara itu, Kepala UPT Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) Kudus, Drh Anton Cahyono mengatakan, vaksin merupakan jalan yang dapat dilakukan untuk mencegah penyakit LSD.

Terlebih menurutnya tingkat kesembuhan dari penyakit LSD diklaim lebih sulit dibandingkan saat hewan ternak terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). ”Maka dari itu harus segera divaksin sebagai pencegahan,” ujarnya.

Baca: Duh! 317 Sapi di Boyolali Terinfeksi Virus LSD

Dia menjelaskan, penyakit LSD tidak dapat dianggap enteng. Sebab, di daerah lain sudah ada temuan kasus penyakit LSD.

”Sudah ada potensi risiko. Seperti PMK (Penyakit Mulut dan Kuku, red) itu terjadi di Jawa Timur, tetapi merambah ke daerah lain juga,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.