Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

3.705 Hektare Tanaman Padi di Kudus Terendam Banjir

Tanaman padi di Kecamatan Jekulo Kudus terendam banjir. (Murianews/Anggara Jiwandhana)

Murianews, Kudus – Banjir di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, sudah hampir dua pekan ini merendam 3.705 hektare tanaman padi di sejumlah kecamatan di Kota Kretek. Dari jumlah itu, sekitar 3.486 hektare di antaranya bahkan terancam puso.

Kecamatan Undaan, jadi wilayah yang paling banyak tergenang. Di mana ada sebanyak 2.264 hektare tanaman padi yang terendam banjir.

Selain Undaan, sawah di Kecamatan Jekulo juga terendam sebanyak 587 hektare. Kemudian Kecamatan Kaliwungu sebanyak 403 hektare, Kecamatan Mejobo ada 304 hektare,  dan Kecamatan Jati 147 hektare.

Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kudus Didik Tri Prasetyo mengatakan, mayoritas umur padi yang tergenang berkisar antara satu hingga 120 hari setelah tanam (HST). Semetara ketinggian banjir rata-rata di ketinggian 20 sentimeter sampai satu meter.

”Kira-kira sudah dua pekan ini banjir merendam ribuan hektare tanaman padi Kudus, 3.486 hektare di antaranya bahkan terancam puso,” ujarnya, Jumat (13/1/2023).

Baca: Pemkab Kudus Tetap Minta Dua Embung untuk Atasi Banjir

Dia mengungkapkan, banjir yang terjadi ini dikarenakan intensitas curah hujan yang tinggi di Kudus beberapa waktu lalu. Di sisi lain, banyak sungai yang tidak bisa menampung air karena sedimentasi berlebih.

Hingga akhirnya, sungai tersebut limpas dan menggenangi area permukiman dan persawahan di Kudus.

”Memang diperlukan adanya normalisasi sungai, bila perlu dibangunkan embung untuk menampung air-air limpasan,” pungkasnya.

Baca: Belum Ada Temuan Kasus di Kudus, Warga Tetap Diminta Waspadai Ciki Ngebul

Banjir di Kabupaten Kudus sendiri pada tahun ini menggenangi sebanyak 32 desa di lima kecamatan di Kudus. Ada sekitar seribuan warga yang mengungsi akibat rumahnya terendam banjir.

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Ruangan komen telah ditutup.