Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pengasuh Ponpes di Kudus Dipolisikan dengan Enam Tuduhan

Pengasuh Ponpes di Kudus Dipolisikan dengan Enam Dugaan Tindak Pidana

Konferensi Pers di Gang Kafe Pati, Jawa Tangah. (Murianews/Umar Hanafi)

Murianews, Pati – Pengurus Pondok Pesantren (Ponpes) Al Fattah Raudhatul Quran Kudus, Ahmadi dilaporkan polisi. Ia diduga melakukan pencemaran nama baik Ponpes Al-Chalimi.

Laporan dari yayasan dan wali santri Ponpes Al-Chalimi itu dilayangkan pada awal Desember 2022 lalu. Laporan dilayangkan ke Polres Kudus dan Polda Jateng.

Tak tangung-tanggung, pelapor melaporkan Ahmadi dengan enam tuduhan. Selain pencemaran nama baik, Ahmadi juga dilaporkan dugaan tindak pidana ekploitasi ekonomi, pencurian dengan pemberantasan dan penadahan

Kemudian, pencurian aliran listrik, penggelapan aset-aset dan surat berharga, serta penyelengaraan pendidikan tanpa izin.

Baca: Bupati Kudus Marah Sekda Tak Hadiri Rapat Penanggulangan Bencana

Ahmadi dilaporkan dengan nomor laporan STTLP/101 /XII/2022/Jateng/Res. Kudus, STTLP/100 /XII/2022/Jateng/Res. Kudus, STTLP/ 102 /XII/2022/Jateng/Res.Kudus, STPLP/ 107-/XII/2022/Reskrim dan STPLP/ 106/XII/2022/Reskrim.

Kuasa Hukum Yayasan Al-Chalimi dan wali santri, Sholikin mengatakan, awalnya, Ahmadi merupakan pengasuh Ponpes Al-Chalimi. Namun, pada periode 2017-2022, Ahmadi tidak memberikan laporan tahunan.

’’Setelah terdesak pada 12 November 2022, Ahmadi dan istrinya mengundurkan diri sebagai Ketua dan Wakil Pengurus Yayasan AL-CHALIMI sekaligus Ketua dan Wakil Pengasuh Pondok Pesantren Al-Chalimi,’’ tutur Sholikin, dari LBH Aman, Senin (9/1/2023).

Namun, permasalahan tidak berhenti di sana. Pada Minggu (13/11/2022), seluruh ustaz, ustazah, dan murabbi (pengasuh, red) Ponpes AI-CHALIMI mengundurkan diri secara bersama-sama.

Ini membuat Ponpes Al-Chalimi lumpuh dan tidak bisa menggelar kegiatan belajar mengajar. Pengawasan ataupun logistik bagi santriwan dan santriwati juga terganggu.

Tak lama setelah masalah itu, lanjut Sholikin, Ahmadi mendirikan Pondok Pesantren dengan nama Al Fatah Raudhatul Qur’an. Letak pondok itu hanya sekitar 100 meter dari Ponpes Al-Chalimi. Saat dicek di Kemenag, Ponpes baru itu ternyata belum memiliki izin.

’’Dia mengajak semua ustaz untuk mengundurkan diri dan pindah ke Pondok Pesantrennya yang baru. Saat ini, yang bersangkutan kami laporan ke Polda Jawa Tangah dan Polres Kudus,’’ tutur dia.

Tak hanya itu, lanjut Sholikin, Ahmadi juga diduga menggunakan gedung TK dan TPQ milik Yayasan Al-Chalimi. Begitu juga akses data administrasi siswa Yayasan Al-Chalimi telah dikuasai.

Sekitar 200 santri dari sejumlah 365 santri Ponpes Al-Chalimi telah pindah ke ponpes milik Ahmadi. Sebanyak 15 santri memilih bertahan di Al-Chalimi dan sisanya memilih pulang ke rumah masing-masing.

Perwakilan wali santri, Bambang Budianto berharap kasus ini segera terselesaikan. Ia berharap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus maupun Pemprov Jateng turut menyelesaikan kasus ini.

’’Kami berharap kepada Pemprov kasus ini segera diselesaikan. Anak kami bertahan dengan kondisi seadanya, fasilitas tidak ada karena diambil. Tiap malam kami bergiliran menjaga karena ada teror,’’ pungkas dia.

 

Reporter: Umar Hanafi
Editor: Zulkifli Fahmi

Catatan Redaksi: Berita ini telah mengalami penyuntingan ulang pada judul demi peningkatan kualitas berita.

Ruangan komen telah ditutup.